Sabtu, 15 Juni 2013

...

Lagi-lagi aku hanya berhasil merengkuhmu dalam angan. Membayangkan kehadiranmu dalam sebuah kenangan. Aku sadar, saatnya kan tiba. Saat dimana kita akan terpisah jauh, atau saat dimana kita seolah tidak lagi saling mengenal. Aku belum siap, dan aku tidak ingin perpisahan datang. Menyesakkan. Saat aku mulai sadar arti sosokmu yang membawa banyak perubahan dalam hidupku, saat itu pula perpisahan mendekat dan perlahan menarikmu menjauh dariku.

Tiga hari yang lalu, aku kembali menggoreskan tinta biru dalam kalender kesayanganku. Kalender bertuliskan  sebuah instansi sekolah yang selama berbulan-bulan ini menghiasi dinding kamarku. Aku bercerita, tentang kegembiraan yang berasal dari kesalahan. Kamu... membuat kesalahan, tapi kamu... berhasil membuatku senang akan hal itu.
Aku bukanlah seorang penulis hebat, atau bahkan aku juga belum bisa disebut sebagai penulis. Penulis sejatinya mempunyai banyak imajinasi, dan mampu menuangkannya dalam sebuah kreasi. Aku belum bisa menjadi orang seperti itu. Imajinasiku belum bisa ku asah dengan maksimal sehingga kebanyakan apa yang aku tulis, bukanlah berasal dari daya khayal atau daya imajinasiku. Aku menulis berdasarkan apa yang sedang aku alami dan rasakan. Melalui untaian huruf per huruf ini, aku menuangkan segala perasaan yang berkecamuk dalam benak. Membiarkan orang lain seolah turut merasakan apa yang sedang aku rasakan. Dan sekarang, entah harus ku sebut bagaimana, tapi akhir-akhir ini aku menganggapmu bagian terpenting dalam hidupku.
Kamu berhasil membuatku lupa akan kepahitan masa lalu. Andai kamu hadir dalam hidupku sejak dulu, mungkin aku tidak harus melewati kesakitan panjang selama bertahun-tahun. Tapi aku tahu, Tuhan sudah memilihkan takdir untukku. Masa lalu ada untuk mengajarkanku tentang arti setia. Dan kamu hadir, sebagai penyembuh luka. Aku mengagumimu, ya, cukup rasa kagum. Aku rasa aku belum bisa berkata bahwa aku mencintaimu, karena faktanya kita sangat jarang berkomunikasi. Saat kita berpapasan-pun, pandangan kita tidak saling menyapa. Langkah kaki kita meninggalkan sebuah pengabaian.
Tapi, semakin aku mencoba untuk tidak peduli padamu, semakin aku ingin mempedulikanmu. Hari ini kamu melakukan salah satu hobi terbesarmu. Diam-diam aku mengamatimu, memberikanmu dukungan walau hanya tertanam dalam batin. Aku senang memperhatikanmu dalam kondisi seperti ini. Saat kamu bisa menjadi apa adanya dirimu, dan saat kamu bisa berlaku berbeda dari hari-hari biasa. Kemarahanmu, kelelahanmu, kekesalanmu, juga kekecewaanmu, semua tertuang dalam sebuah ekspresi yang tertangakap oleh indera penglihatanku. Aku selalu tersenyum, saat mengingat ekspresi-ekspresi lucumu hari ini.
Terakhir yang bisa aku berikan untukmu. Kamu datang untuk membuatku bangkit, dan satu-satunya harapanku adalah, semoga kamu yang mampu membuatku bangkit bukanlah orang yang nantinya akan kembali membuatku terpuruk. Mungkin sedikit sulit untuk mencerna kalimat itu, karena aku-pun membutuhkan waktu beberapa menit untuk memikirkan kata-kata yang tepat. Sudah aku bilang, aku belum bisa menjadi penulis yang mampu merangkai kata-kata indah menjadi sebuah kalimat yang nyaman untuk dibaca. 
Kamu, tetaplah semangat untuk mengejar impianmu. Tetaplah semangat untuk meningkatkan hobimu. Dan kamu, jangan pernah lelah menjadi alasanku untuk bangkit. Jangan pernah lelah menjadi alasanku untuk mengawali hari dengan semangat.
Aku mengagumimu, :)