Minggu, 19 Februari 2017

Teruslah Menjadi Orang yang Bisa Memaknai Cinta Secara Nyata part 2


Bibirku masih saja terkunci. Tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Semua penjelasan yang kamu utarakan semakin membuatku penasaran, Mas.
"Aku tahu kamu memiliki masalah yang cukup menyesakkan dalam lingkup keluargamu. Meskipun masalah itu tidak kamu tulis di blog, namun aku terlanjur membacanya melalui block notemu. Aku tahu mengapa kamu cukup mudah jatuh sakit, semua itu karena batinmu tertekan. Makanmu sangat tidak teratur, bahkan kamu bisa tiga hari berturut-turut tidak makan sama sekali. Kamu mengakalinya dengan minum air putih dan menganggap bahwa itu sudah bisa mencukupi gizimu,"
Ada sedikit jeda yang lagi-lagi memotong kalimatmu. Kamu menarik napas lagi, lalu diam beberapa saat. Aku tetap menanti kelanjutan dari pengakuanmu.
"Di kelasmu, untunglah aku memiliki salah satu orang terdekat, yaitu Iqbal."
"Iqbal?!" Tanyaku meyakinkan.
"Ya. Dia sering mengajakmu makan di kantin, bukan? Setiap ke kantin bersamamu, dia selalu memesan makanan yang cukup banyak, lalu mengajakmu makan sepiring berdua dengan alasan porsinya terlalu banyak. Saat kamu menolaknya, Iqbal akan mengejekmu habis-habisan hingga akhirnya kamu menyerah dan bersedia makan bersamanya,"
Napasku semakin tercekat. Iqbal. Jadi selama ini perlakuannya kepadaku didalangi oleh seseorang.
Tiba-tiba kamu berhenti bercerita, dan tertawa menatapku.
"Kenapa tiba-tiba tertawa dan melihatku seperti itu?" Tanyaku curiga.
"Kamu pasti sempat memiliki perasaan kepada Iqbal, kan?" Tawamu semakin mengembang. Aku menelan ludah.
Memang saat itu aku memiliki sedikit perasaan kepada Iqbal karena semua perlakuannya kepadaku. Meskipun dia sering berdebat dan bahkan sering mengejekku, namun tidak bisa aku pungkiri bahwa dia cukup memperhatikanku.
"Kenapa kamu sampai melakukan hal seperti itu? Maksudku... ah, untuk mengajukan pertanyaan yang tepat saja aku bingung,"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu makan teratur. Sungguh, sebenarnya aku ingin berada di posisi Iqbal, menemanimu makan setiap jam istirahat pelajaran. Namun, saat itu kamu belum tahu siapa aku. Keberuntungan rasanya memang berada di pihakku. Aku senang saat tahu bahwa teman sebangkuku saat ujian semester adalah kamu."
Aku menghela napas sejenak, rasanya masih tidak percaya dengan kalimat-kalimat yang baru saja aku cerna. Kamu membaca block noteku dan membacanya hingga halaman terakhir. Kamu tahu masalah apa yang aku hadapi, tapi kamu justru mendekatkan diri denganku melalui cara yang luar biasa.
"Tunggu," aku menginterupsi keheningan yang tercipta. Kamu langsung melihatku dengan mata membelalak, menunggu perkataanku selanjutnya.
"Waktu itu, saat pertama kali aku bertemu denganmu sebagai teman sebangkuku, mengapa kamu begitu kaku dan dingin? Mengingat saat itu rasanya aku ingin mencekikmu, Mas." Gurauku dan langsung kamu respon dengan tawa menggema.
"Dik, tidak mungkin tiba-tiba aku berkata bahwa aku sudah mengenalmu. Aku hanya ingin semua mengalir normal. Saat orang pertama kali bertemu, apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan bersikap seolah mengacuhkan, bukan? Itu yang ingin aku tunjukkan kepadamu, supaya aku tetap memiliki karisma sebagai seorang gitaris dan kakak kelas yang istimewa di matamu,"
Giliranku yang tertawa lebar. Kamu sangat pandai membuat hatiku berdebar.
"Aku tahu kamu suka makan coklat dan es krim sebagai pengusir rasa sedihmu. Apakah kamu menyadari ada sesuatu yang aneh tentang coklat dan es krim?"
Aku diam sejenak, mengingat kejadian yang aneh tentang coklat dan es krim. Ada, banyak. Aku mengingat banyak hal aneh yang berhubungan dengan dua makanan itu.
"Semenjak kita semakin dekat, kamu sangat sering memberiku coklat dan mentraktirku es krim. Kamu menggunakan alasan-alasan yang sedikit tidak masuk akal tiap melakukan hal itu, tapi bodohnya aku bisa mempercayai alasanmu. Apakah itu sebagian dari rencanamu juga, Mas?"
"Coba tebak," kamu justru menantangku untuk memberikan sebuah argumen.
"Kamu tidak benar-benar memiliki voucher es krim gratis itu, kan? Dan soal coklat, aku juga yakin itu kebohongan. Mana mungkin dalam setiap dua minggu sekali, kamu mendapat kiriman coklat dari pamanmu. Memangnya pamanmu membuka pabrik coklat? Mengapa aku baru benar-benar sadar sekarang,"
"Kamu terlalu mudah dibohongi, Dik. Hahaha,"
"EITSSS..." aku menginterupsi lagi, tidak terima. "Aku hanya bisa dibohongi untuk urusan makanan, bukan perasaan," aku menyunggingkan senyum mengejek dan mengedipkan mataku jahil.
Kamu lagi-lagi tertawa melihatku bertingkah seperti itu.
"Aku senang melihat tawamu yang seperti itu. Rasanya seperti semua beban dalam hidupmu menghilang," aku membeku seketika mendengar kalimat itu tiba-tiba terlontar.
Mas, kamu kakak kelas terbaik yang pernah aku temui. Mengapa kamu bisa mengatur semuanya sedemikian rupa. Kamu memastikanku makan di kantin bersama Iqbal saat aku belum mengenalmu. Beberapa bulan kemudian, saat aku sudah mengenalmu, kamu mengambil alih posisi Iqbal. Kamu yang sering mengajakku makan di kantin. Tidak jarang, aku juga masih sering makan bersama Iqbal. Lantas, es krim dan coklat yang memang merupakan pengusir rasa sedihku, kamu dengan halusnya menawarkan dua makanan itu kepadaku. Kamu sangat berusaha agar aku tidak terus-terusan merasa tertekan. Jiwa seperti apa yang sebenarnya kamu miliki, Mas?
"Dik, saat kamu duduk di kelas dua belas nanti, kamu akan membutuhkan banyak tenaga ekstra. Saat itu juga, aku sudah lulus dari sekolah ini dan aku harus meneruskan perjuanganku untuk kuliah. Aku tidak bisa lagi menjaminmu untuk makan, aku juga tidak bisa lagi menjaminmu untuk tidak banyak pikiran. Aku hanya ingin berpesan, jagalah tubuhmu. Jagalah kesehatanmu. Perceraian orang tuamu tidak harus menjadikanmu selapuk kayu,"
Air mataku menitik beberapa kali, namun langsung aku hapus supaya tidak ketahuan.
"Kita dalam posisi yang sama, Dik. Dalam block notemu kamu berkata bahwa perceraian orang tuamu membuat hidupmu menjadi tidak keruan. Sama, aku juga merasakan hal yang demikian."
Lagi-lagi dadaku sesak. Aku baru tahu jika kamu merupakan korban percerain orang tua juga. Tapi kenapa kamu bisa setegar dan sehebat itu dalam menghadapi kenyataan? Bukankah perceraian orang tua selalu membawa anak-anaknya kepada kesedihan dan kepedihan?
"Aku tidak sekuat itu," tanpa aba-aba, kamu berkata demikian.
"Eh..." jawabku ragu. "Kamu punya bakat untuk mendengar pikiran orang ternyata, Mas."
Kamu tersenyum lagi, ringan. Beberapa detik kemudian, tatapanmu nanar. Aku baru sadar jika dalam sorot matamu juga ada kesedihan yang mendalam.
"Perceraian orang tuaku benar-benar membuatku terpukul, Mas. Aku tidak percaya bahwa sosok tangguh seperti ayahku tega mengkhianati cinta bundaku. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Aku sangat membanggakan ayahku, namun tiba-tiba semua berubah. Ayahku ternyata diam-diam memiliki perempuan lain. Bahkan perempuan itu sudah memiliki dua anak hasil pernikahan siri dengan ayahku. Anak tertuanya berusia sekitar tujuh tahun,"
Hatiku kembali teroyak mengingat kejadian itu. Kamu dengan sigapnya langsung mengelus pundakku.


*** TO BE CONTINUED ***

Sabtu, 18 Februari 2017

Teruslah Menjadi Orang yang Bisa Memaknai Cinta Secara Nyata

Hari itu merupakan hari pengambilan hasil laporan belajar siswa. Ada jadwal khusus yang selalu diselenggarakan setiap kali hari penerimaan raport tiba; pentas seni. Di pentas seni itu, hampir semua bakat akan ditampilkan. Mulai dari dancing, singing, dan berbagai macam hal lain yang tidak kalah menyenangkan. Diselipkan pula pengumuman pemenang lomba selama class meeting. Sungguh, diselenggarakannya pentas seni merupakan suatu kegembiraan tersendiri bagi setiap murid. Mereka bisa menunjukkan bakat mereka dan tertawa suka ria. Rasanya beban selama ulangan akhir semester menghilang seketika.
Kala itu, Mas, kamu bersama bandmu tampil memeriahkan suasana. Kamu yang selama beberapa kali menjadi teman sebangkuku saat menghadapi ujian semester. Ini merupakan kali terakhir kamu tampil di acara pensi sekolah. Meskipun statusmu sejak beberapa minggu yang lalu sudah resmi menjadi 'alumni', namun angkatanmu tetap diundang untuk ikut menghebohkan.
"Jangan lupa liat penampilan bandku ya, Dik," pesan singkatmu masuk ke ponselku pagi-pagi buta. Tentu saja aku tidak lupa. Aku akan bersemangat tiba untuk melihat penampilanmu, Mas. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku melihatmu bermain dengan gitar kesayanganmu. Mungkin masih ada lain waktu, tapi aku tidak tahu kapan tibanya waktu itu. Kamu akan segera sibuk dengan dunia kuliahmu, dan aku harus segera mempersiapkan diri untuk ujian nasionalku.
Bandmu, The Marvell, akhirnya tampil. Aku berusaha mencari tempat duduk tepat di depan panggung, namun semuanya penuh. Terlalu banyak yang berantusias untuk melihat pensi kali itu. Kamu memperhatikan sekitar, tampak sedang mencari seseorang, namun entah siapa yang kamu cari. Wajahmu sedikit cemas, tidak seperti biasanya yang tampak tenang.
Aku berdiri di samping panggung, dikelilingi oleh banyaknya kerumunan orang. Kamu mungkin tidak bisa melihatku dari atas sana, Mas. Tapi tenanglah, aku akan tetap menyaksikan penampilanmu meskipun tempatku berdiri sangatlah panas.
Kamu duduk, memangku gitar kesayanganmu. Tepat menghadap ke arahku. Namun, aku tidak yakin apakah kamu melihatku. Matamu masih saja sibuk mencari, mimik wajahmu juga masih saja terlihat cemas. Siapa yang sedang kamu cari, Mas?
Penampilan bandmu dimulai, lagu pertama yang dibawakan waktu itu adalah lagu dari SUM 41 berjudul With Me. Aku tersenyum senang mengikuti alunan lagunya, aku memang sangat menyukai lagu ini. Aku sempat memberitahumu tentang hal itu, dan entah secara kebetulan atau tidak bandmu membawakannya.
Matamu masih sibuk mencari, permainanmu terlihat tidak sebaik biasanya. Apakah hatimu sedang risau?
Sesaat, saat kamu menatap ke tempat di mana aku berdiri, aku mengangkat tanganku dan melambaikannya ke arahmu. Kamu menatapku, lekat. Lalu dalam sekejap, kamu tersenyum. Mimik wajahmu berubah cerah. Apakah memang sedari tadi yang kamu cari adalah... aku?
Kamu berulang kali melihat ke arahku, lalu tersenyum, fokus lagi bermain gitar, melihat ke arahku, tersenyum, dan begitu seterusnya hingga penampilanmu usai.
Bandmu membawakan tiga lagu saat itu, dan selama itu, kamu selalu menyempatkan diri untuk melempar pandangan ke arahku... lalu tersenyum.
Seusai lagu ketiga, kamu dan teman-temanmu mengucapkan terima kasih lantas turun dari panggung. Ada yang aneh, semua temanmu turun melalui tangga belakang, namun kamu justru turun melalui tangga samping. Berjalan dengan pasti menuju ke arah di mana aku berada. Saat itu, banyak orang yang memperhatikanmu, Mas, Bahkan ada beberapa orang yang berteriak saat kamu menyapaku. Aku yakin bahwa yang berteriak itu adalah siswa kelas 10. Mereka mungkin penggemarmu yang tidak rela kamu mendekati perempuan lain.
Kamu berdiri tepat di hadapanku, sembari tanganmu menggenggam gitar. Tersenyum manis, lantas mengajakku duduk di tangga dekat perpustakaan. Di situ cukup sunyi, karena lokasinya jauh dari halaman sekolah tempat di mana pensi diselenggarakan.
"Gimana tadi. Bagus, kan?" Tanyamu tepat sebelum aku duduk di anak tangga.
"Luar biasa," jawabku bangga. "Eh, Mas..." Lanjutku, terpotong.
"Ya, Dik?"
"Tadi kenapa pas awal-awal penampilan, permainanmu sedikit kacau? Kamu juga kelihatan mencari seseorang," tanyaku langsung pada poinnya.
Kamu tersenyum, cukup lebar hingga barisan gigimu terlihat.
"Kamu nggak tahu siapa yang aku cari?"
Pertanyaan itu langsung aku jawab dengan sebuah gelengan kepala.
"Aku mencari kamu, Dik. Aku cemas kamu nggak melihat penampilanku. Padahal lagu yang pertama ditampilkan kan lagu kesukaanmu," napasku tercekat, nyaris aku menyemburkan minuman yang baru saja aku teguk.
Aku menoleh ke samping, mengamati lamat-lamat sosok kakak kelas yang sudah terlalu baik ini.
"Mas..." ucapku ragu. "Kamu nggak lagi becandain aku, kan?"
Senyummu lamat-lamat tersungging lagi.
"Enggak, Dik. Ini tahun terakhirku tampil di pensi sekolah. Aku ingin menampilkan sesuatu yang disukai oleh orang teristimewaku,"
Aku diam, mendengarkan dengan seksama. Bola matanya menatap tajam ke mataku.
"Aku sempat beradu argumen dengan anggota band, mereka memarahiku habis-habisan karena tidak banyak yang tahu kunci lagu ini," kamu berhenti, mengambil napas untuk melanjutkan kalimatmu.
"Kalau kamu sempat memperhatikan, lagu kedua dan lagu ketiga yang tadi dibawakan sama dengan lagu yang dulu pernah dibawakan saat pensi. Harusnya lagu pertama juga lagu yang pernah dibawakan dulu, Dik."
Matamu semakin menatapku lekat.
"Tapi aku dengan berbagai cara mencoba merayu anggota band supaya mau menampilkan lagu ini. Akhirnya, setelah lama beradu argumen, mereka mengiyakan permintaanku. Saat itu, ada satu lagi permintaanku, yaitu supaya lagu ini ditampilkan diurutan terakhir. Namun mereka menolaknya. Mereka mengancam tidak akan menampilkan lagu ini jika aku terlalu banyak permintaan."
Pipiku terasa panas, mataku bahkan tidak berkedip beberapa detik untuk memperhatikan cerita itu.
"Aku nggak tahu kenapa kamu sampai melakukan hal seperti ini, Mas."
"Dik. Kamu pernah cerita ke aku kalau kamu sangat suka lagu itu, dan sangat berharap akan ada seseorang yang menampilkannya di depan umum untukmu. Aku berusaha mewujudkan harapanmu. Lagu tadi tulus aku bawakan untukmu."
"Tapi kenapa? Kita bahkan baru mengenal satu tahun, Mas."
"Meskipun kamu baru mengenalku selama satu tahun, namun rasanya aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun. Aku membaca semua postingan di blog kamu. Cerita yang kamu tulis di sana, seolah menggambarkan siapa kamu sebenarnya. Aku bisa mengenalmu hanya dari tulisan-tulisanmu."
Aku terdiam, kehabisan kata-kata.
"Tidak perlu membalas ucapanku jika memang kamu kehabisan perkataan. Biar aku saja yang menjelaskan," aku tertegun sejenak. "Pertemuan pertamaku dengan kamu, masih sangat aku ingat, Dik." Lanjutmu kemudian.
"Pertemuan pertama kita waktu ujian mid semester satu kan, Mas? Saat itu aku masih di kelas 10, masih culun-culunnya."
Kamu tersenyum, lantas menggeleng.
"Bukan. Jika kamu mengira itu pertemuan pertamamu denganku, maka anggap saja begitu. Tapi tidak denganku. Aku pertama kali mengenalmu saat kamu masih dalam masa orientasi,"
"Bagaimana bisa?" Tanyaku tidak percaya.
"Kamu ingat saat ada latihan PBB? Waktu itu kamu pingsan, dan langsung dibawa ke UKS. Tidak ada petugas PMR saat itu. Panitia MOS hanya mengobatimu sekenanya. Beberapa menit kemudian, kamu sadar. Lalu, panitia yang menungguimu mulai meninggalkan ruangan UKS untuk membantu para panitia lain yang masih kerepotan."
"Lalu di bagian mana kamu bertemu denganku, Mas? Kamu bukan salah satu panitia yang ikut merawatku di UKS, kan?"
Kamu menggeleng lagi.
"Bukan," Senyummu mengembang sedikit. "Saat itu aku juga sedang berada di UKS. Tidur di ruang dalam. Tiba-tiba kamu merintih, dan tidak ada orang di sana selain aku. Mau tidak mau aku mendekat ke arahmu. Badanmu cukup panas. Aku tidak ingin mengganggu panitia yang sedang kerepotan, oleh sebab itu aku putuskan untuk mencari kompres dan mengobatimu. Rupanya kamu kehilangan separuh kesadaranmu kala itu."
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Mataku semakin membesar, memperhatikan ceritamu dengan penuh perasaan. Kamu tersenyum tipis, lalu melanjutkan kalimatmu.
"Block notemu terjatuh di lantai, dan aku mengambil lalu dengan lantang membacanya. Awalnya aku hanya ingin membaca satu dua halaman, namun tulisanmu berhasil membuat hatiku turut remuk berantakan dan juga membuatku semakin penasaran. Aku membacanya hingga akhir halaman. Di sana tertulis alamat blogmu. Dari hari itu, aku mulai mencari tahu tentang kamu."

*** TO BE CONTINUED ***

Linked Post

Bukan karya asliku. Aku hanya sekilas membaca judulnya, lalu terlena.
Untuk itulah aku menempelkan link-nya DI SINI
Selamat membaca.

Jumat, 17 Februari 2017

Semoga Kamu tidak Pandai Mematahkan

Untukmu, yang berhasil membuatku merasa tenang dan nyaman.

Tuan, entah perasaan ini datang dari mana. Tiba-tiba semuanya muncul, tanpa pernah aku menyangka. Kamu yang sudah cukup lama aku acuhkan, mendadak berubah menjadi orang yang sangat ingin aku perhatikan.
Hari ini jurusan kita mengadakan orientasi mahasiswa baru. Saat ini pun, aku memang sedang berada dalam mood terburukku. Aku hanya ingin mengeluh dan mengumpat. Aku sangat jarang mengumbar senyum dan terlalu banyak memberikan tatapan sinis. Rasa-rasanya kamu paham bahwa suasana hatiku sedang tidak baik. Aku pun tidak tahu pasti apa yang membuatku merasa sangat buruk seperti ini.
Aku lebih banyak menyendiri. Menatap nanar layar ponsel. Berusaha sibuk padahal pikiranku kosong. Lalu tiba-tiba kamu datang, duduk menyejajariku. Diam beberapa detik, lantas tiba-tiba tanganmu mengayun di depan wajahku.
"Kamu kenapa?" Tanyamu singkat dan membuyarkan lamunanku.
"Gak kenapa-kenapa," jawabku, berbohong.
Diam lagi, lebih panjang dari sebelumnya. Lalu tiba-tiba, tidak tahu mendapat arahan dari mana, jariku mengetikkan beberapa patah kata di ponselku, dan aku menunjukkannya kepadamu. Isi dari tulisan itu adalah, aku sedang malas berada di sini. Aku ingin pergi, karena ada tiga orang yang membuatku sakit hati. Dan bisa dibilang bahwa tiga orang tersebut cukup dekat denganku. Namun, sungguh, hari ini mereka bertiga berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan. Bukan hanya aku yang merasa seperti ini, ada juga beberapa orang lain yang berpikiran demikian. Mereka bertiga terlalu menunjukkan sisi keegoisannya kepada banyak orang.
Kamu paham. Lalu tiba-tiba berdiri. Menarik tanganku, mengajakku pergi berkeliling sekitar kampus dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan, kamu memancingku untuk bercerita tentang perasaan apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Aku, tanpa sadar bercerita panjang lebar. Hal yang sangat jarang aku lakukan. Dan hal yang lebih mengagetkan adalah, saat aku selesai menceritakan semuanya, ternyata kami sudah tiba di halaman rektorat. Padahal jarak dari fakultas kami menuju halaman rektorat bisa dibilang cukup jauh, lebih dari satu kilometer. Ada apa ini, tuan? Mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali.
"Kita benar-benar sudah di halaman rektorat?!" Teriakku histeris, tidak percaya dengan tempatku berada sekarang.
Kamu hanya tersenyum, tuan. Senyum yang -baru aku sadari- cukup menawan. Kemana perginya semua mood burukku? Lenyap seketika. Tidak tersisa sama sekali. Rasanya sangat lega dengan keberadaanmu yang berhasil mengusir suasana buruk di dalam diriku. Aku tersenyum, pun kamu juga tersenyum.
"Lain kali, jika suasana hatimu memburuk, cobalah temukan seseorang yang bisa kamu ajak bercerita. Jangan hanya kamu pendam sendirian, karena itu akan terasa semakin menyakitkan," sungguh, mendengar perkataanmu yang seperti itu, aku merasa sedikit menyesal karena terlalu sering mengabaikanmu. Hatimu baik, tuan.
"Terimakasih," ucapku tulus. "Aku lapar," lanjutku, mendelik.
"Aku tahu. Perutmu sudah berbunyi beberapa kali, sangat keras sampai aku bisa mendengarnya." Lagi-lagi kamu tersenyum. Menyenangkan sekali berada di sampingmu. Aku tidak pernah menyangkanya.
Kami menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk makan, ditemani dengan cerita ringan. Rasanya nyaman, dan aku ketagihan. Aku ingin memiliki waktu yang lebih lama bersamamu, tuan.
Perasaan macam apa ini? Kamu yang sedari dulu tidak pernah aku perhatikan, bahkan saat berpapasan pun tidak pernah aku berikan senyuman, tiba-tiba membuat hatiku berdebaran. Rasa ini terlalu membuatku penasaran.
Tuan, aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Seperti apa kepribadianmu yang sesungguhnya. Aku hanya berharap bahwa kamu bukanlah orang yang pandai mematahkan hati perempuan. Semoga kamu memang bukan orang yang seperti itu, ya.
Rasa nyaman ini, biarlah aku pendam dalam hati. Biarlah aku yang merasakannya tanpa perlu menyuruhmu mengerti. Semakin hari, kamu semakin baik. Kamu semakin membuatku merasa tenang dan aman.
Terimakasih telah berbagi kebaikan kepadaku, tuan.

Kamu, layang-layangku

Jika mendengar kata layang-layang, apa yang kalian bayangkan?
Bagiku, layang-layang adalah bukti perjuangan.
Dahulu, sewaktu aku masih kecil, aku harus merakit sendiri layang-layang yang ingin aku terbangkan. Aku membeli badan layang-layang, lalu juga benangnya. Untuk ekor layang-layang, aku harus membuatnya sendiri. Lantas setelah semua itu terkumpul, aku harus merakitnya agar bisa terbang.
Tidak mudah menerbangkan layang-layang. Hanya sebagian orang yang berhasil, selebihnya banyak yang menyerah dan memilih menyuruh orang lain untuk menerbangkannya.
Kamu...
Kamu layaknya layang-layang yang sedari dulu sudah aku rakit. Aku merakitmu penuh cinta. Aku berusaha menerbangkanmu supaya kamu bisa melihat dunia yang luas dari atas sana. Aku harus menarik-ulur benang agar kamu tetap bisa di atas, tapi aku juga harus menjagamu agar tidak lepas. Berhasil. Dengan sedikit banyak perjuangan yang aku lakukan, dengan sedikit banyak keluhan yang aku lontarkan, akhirnya layang-layangku terbang. Semakin hari semakin meninggi. Aku tidak lelah memastikan bahwa layang-layangku baik-baik saja di atas sana. Aku menarik-ulur benang agar supaya layang-layangku tetap bisa terbang. Harapanku hanya satu, yaitu supaya layang-layangku tidak terbang putus dari benang dan akhirnya menghilang. Jangan, karena hal itu akan membuatku merasa sangat kehilangan.
Aku tersenyum bangga melihatmu yang semakin hari semakin mantap berada di atas sana. Aku senang karena setidaknya aku bisa menghantarkanmu di titik di mana kamu berada sekarang. Aku amat senang.
Namun, kesenanganku hanya bertahan sementara. Suatu saat, kala kamu sudah berada cukup tinggi, kamu memilih untuk pergi. Benang yang menjadi pengikat antara aku dan kamu, putus. Kamu terbang, semakin meninggi dan entah tujuanmu ke mana. Aku hanya bisa melihatmu terbang semakin menjauh. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu terlalu sulit untuk kembali aku rengkuh. Kamu pergi, meninggalkanku yang selama ini sudah berusaha menerbangkanmu.
Aku hanya bisa bersedih, dan menangis. Tapi, aku sadar bahwa menangisimu -mungkin- tidak akan membuatmu kembali. Kamu sudah semakin terbang ke atas dan menjauh.
Kamu... apakah kamu paham maksudku?
Jika paham, semoga kamu bisa merasakan apa yang sekarang aku rasakan.
Tapi jika memang kamu tidak paham, tak apa. Aku akan berusaha merelakanmu pergi. Pun aku juga akan berusaha untuk mencari layang-layang yang baru, dan memastikan bahwa benangnya tidak mudah putus seperti kamu.
Untuk sekarang, aku masih menangisimu. Entah sampai kapan. Rasanya sakit sekali harus merelakanmu pergi setelah semua apa yang telah kita lalui.
Kamu baik-baik, ya. Aku tidak bisa lagi menjagamu, karena benang pengikat diantara kita sudah putus. Perjalananmu untuk semakin berada di atas masih panjang, jadi jangan lupa beristirahat kala kamu kelelahan.
Teruslah berjuang, layang-layangku.
Aku hanya bisa mengingatmu, dan sebisa mungkin akan aku temukan cara untuk merelakanmu.

Dari orang yang pernah melewati masa jatuh bangun bersamamu.

Selasa, 14 Februari 2017

Berbahagialah, dan Aku akan Baik-baik Saja

Inspired by someone who had a bad experience about love. He was betrayed by a girl he loved.
Tenanglah, semua sudah diatur. Segala hal yang ada di dunia ini tidak mungkin terjadi tanpa tolak ukur. Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik untukmu, bersabarlah dan ikhlaskan apa yang membuatmu sakit. Jangan membentengi diri, karena hal itu hanya akan semakin menyakitkan hati.

Point of view: First Person, main character.

Hari ini mungkin hari tersakit yang aku alami semenjak aku mengenalmu. Undangan di tanganku, tertulis jelas namamu disana, Aira Cahyaning Putri, yang akan menikah dengan lelaki bernama Jati Prasetya. Bisa kamu jelaskan, siapa sosok lelaki ini?
Aira, kita sudah menjalin hubungan selama lebih dari tiga tahun. Semua teman-temanku, semua teman-temanmu bahkan tahu tentang hubungan kita. Bukan hanya itu, keluarga kita bahkan juga sudah saling mengetahui tentang hubungan kita. Lantas, tiba-tiba di meja kamarku ada sebuah undangan pernikahanmu dengan lelaki lain. Tolong, beri tahu aku. Siapa dia, bagaimana kalian bisa semantap ini untuk mewujudkan pernikahan. Apakah selama ini kamu berselingkuh di belakangku, ataukah sebaliknya, kamu menjadikanku sebagai selingkuhanmu?
Jika memang aku adalah selingkuhanmu, tidak mungkin kamu berani mengenalkanku dengan kerabat-kerabat dekatmu karena hal itu terlalu beresiko. Lantas, jika memang kamu berselingkuh di belakangku, mengapa lelaki itu bisa sebegitu mantapnya ingin menikahimu? Sejauh mana hubungan yang telah kalian bangun di belakangku? Tidakkah lelaki itu tahu bahwa kamu sudah memiliki kekasih? Tidakkah kamu menjelaskan kepada lelaki itu bahwa kamu sudah memiliki aku?
Aira, tidak banyak yang bisa aku jelaskan kepadamu tentang perasaanku sekarang ini. Semuanya terasa begitu sakit. Aku sadar aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, kamu sudah resmi menjadi calon istri orang. Aku ingin marah? Tentu saja. Aku sangat ingin marah dengan kenyataan ini.
Tiga minggu yang lalu kita masih bermesraan khas anak pacaran, Aira. Kamu masih menggandeng tanganku mesra, tersenyum padaku dengan begitu manisnya. Lalu sekarang, kamu sudah menyebar undangan pernikahan dengan lelaki lain. Bukankah itu berarti pernikahanmu dipersiapkan saat kamu masih resmi menjadi kekasihku? Setelah hari itu, kamu meminta ijin kepadaku untuk tidak berkomunikasi selama beberapa hari. Kamu bilang, kamu ingin fokus melamar dan mendapatkan pekerjaan. Kamu bilang, kamu akan menghubungiku saat kamu sudah punya sebuah kabar menggembirakan. Aku menyetujuinya. Sejak hari itu, aku berusaha tidak menghubungimu supaya kamu bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan. Ternyata, semua itu hanyalah alibi. Kamu sengaja menyuruhku tidak menghubungimu agar supaya kamu bisa mempersiapkan pesta pernikahanmu. Kamu benar-benar memberikanku kabar yang menggembirakan, Aira. Setidaknya kabar itu menggembirakan untukmu dan calon suamimu, tapi tidak untukku. Kabar darimu yang selalu aku tunggu-tunggu, ternyata menghancurkan perasaanku.
Jika aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu dan berbicara dari hati ke hati, sungguh aku ingin bertanya apa alasanmu. Sungguh aku ingin mengerti apa tujuanmu melakukan semua hal ini kepadaku. Katamu, kamu akan menemaniku hingga aku sukses nanti. Katamu, kamu akan membantuku menghadapi hidup yang keras ini. Katamu, kamu sangat menantikan kehadiranku beserta keluargaku untuk melamarmu. Semua kata-katamu, ternyata menipu. Kamu pembohong.
Entah sudah berapa orang berusaha menenangkanku dengan kondisi ini, tapi aku pikir usaha mereka percuma. Usaha mereka untuk meredam sakit hatiku, semua sia-sia. Sakit hatiku sudah tidak bisa aku gambarkan dengan ungkapan kata-kata.
Aira, aku berusaha menerima, namun kenyataannya tidak semudah yang aku sangka. Aku mencoba mengikhlaskanmu, namun hal itu semakin membuatku pilu. Aku masih berharap bahwa ini semua adalah mimpi. Kamu tidak benar-benar akan menikah dengan lelaki bernama Jati Prasetya, kan?
Mungkin inilah yang terbaik. Baik untukmu, baik untukku, dan juga baik untuk semua orang. Aku memang belum bisa mengikhlaskan, karena aku sudah mencintaimu terlalu dalam. Aku memang masih hancur karena fakta yang kamu berikan begitu membuatku terpukul. Aira, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tegar. Aku mencintaimu sejak awal kita berpacaran, tiga tahun yang lalu, hingga sekarang. Jika memang kenyataannya sepahit ini, mungkin justru inilah yang terbaik untuk suatu saat nanti. Aku memang selalu berharap menikahimu, menjadikanmu istri tercintaku, namun ternyata harapanku terlalu tinggi dan jauh. Kamu terlalu mudah menduakan dan mengkhianati perkataan.
Aku tidak tahu apakah aku sanggup datang ke pesta pernikahanmu atau tidak. Pesta itu terjadwal akan diselenggarakn dua minggu lagi. Aku masih punya waktu untuk menyiapkan hatiku untuk bertemu denganmu yang bersanding dengan lelaki lain. Aku akan berusaha datang, Aira. Aku akan menjadi salah satu saksi di hari bahagiamu.
Semoga ini memang yang terbaik untuk kita semua. Berbahagialah dengan lelaki bernama Jati Prasetya. Dia harus bisa mencintaimu sedalam aku mencintaimu, atau bahkan lebih dari itu. Aku akan baik-baik saja, Aira.


Dari hati yang telah engkau patahkan