Minggu, 19 Februari 2017

Teruslah Menjadi Orang yang Bisa Memaknai Cinta Secara Nyata part 2


Bibirku masih saja terkunci. Tidak tahu harus memberikan jawaban seperti apa. Semua penjelasan yang kamu utarakan semakin membuatku penasaran, Mas.
"Aku tahu kamu memiliki masalah yang cukup menyesakkan dalam lingkup keluargamu. Meskipun masalah itu tidak kamu tulis di blog, namun aku terlanjur membacanya melalui block notemu. Aku tahu mengapa kamu cukup mudah jatuh sakit, semua itu karena batinmu tertekan. Makanmu sangat tidak teratur, bahkan kamu bisa tiga hari berturut-turut tidak makan sama sekali. Kamu mengakalinya dengan minum air putih dan menganggap bahwa itu sudah bisa mencukupi gizimu,"
Ada sedikit jeda yang lagi-lagi memotong kalimatmu. Kamu menarik napas lagi, lalu diam beberapa saat. Aku tetap menanti kelanjutan dari pengakuanmu.
"Di kelasmu, untunglah aku memiliki salah satu orang terdekat, yaitu Iqbal."
"Iqbal?!" Tanyaku meyakinkan.
"Ya. Dia sering mengajakmu makan di kantin, bukan? Setiap ke kantin bersamamu, dia selalu memesan makanan yang cukup banyak, lalu mengajakmu makan sepiring berdua dengan alasan porsinya terlalu banyak. Saat kamu menolaknya, Iqbal akan mengejekmu habis-habisan hingga akhirnya kamu menyerah dan bersedia makan bersamanya,"
Napasku semakin tercekat. Iqbal. Jadi selama ini perlakuannya kepadaku didalangi oleh seseorang.
Tiba-tiba kamu berhenti bercerita, dan tertawa menatapku.
"Kenapa tiba-tiba tertawa dan melihatku seperti itu?" Tanyaku curiga.
"Kamu pasti sempat memiliki perasaan kepada Iqbal, kan?" Tawamu semakin mengembang. Aku menelan ludah.
Memang saat itu aku memiliki sedikit perasaan kepada Iqbal karena semua perlakuannya kepadaku. Meskipun dia sering berdebat dan bahkan sering mengejekku, namun tidak bisa aku pungkiri bahwa dia cukup memperhatikanku.
"Kenapa kamu sampai melakukan hal seperti itu? Maksudku... ah, untuk mengajukan pertanyaan yang tepat saja aku bingung,"
"Aku hanya ingin memastikan bahwa kamu makan teratur. Sungguh, sebenarnya aku ingin berada di posisi Iqbal, menemanimu makan setiap jam istirahat pelajaran. Namun, saat itu kamu belum tahu siapa aku. Keberuntungan rasanya memang berada di pihakku. Aku senang saat tahu bahwa teman sebangkuku saat ujian semester adalah kamu."
Aku menghela napas sejenak, rasanya masih tidak percaya dengan kalimat-kalimat yang baru saja aku cerna. Kamu membaca block noteku dan membacanya hingga halaman terakhir. Kamu tahu masalah apa yang aku hadapi, tapi kamu justru mendekatkan diri denganku melalui cara yang luar biasa.
"Tunggu," aku menginterupsi keheningan yang tercipta. Kamu langsung melihatku dengan mata membelalak, menunggu perkataanku selanjutnya.
"Waktu itu, saat pertama kali aku bertemu denganmu sebagai teman sebangkuku, mengapa kamu begitu kaku dan dingin? Mengingat saat itu rasanya aku ingin mencekikmu, Mas." Gurauku dan langsung kamu respon dengan tawa menggema.
"Dik, tidak mungkin tiba-tiba aku berkata bahwa aku sudah mengenalmu. Aku hanya ingin semua mengalir normal. Saat orang pertama kali bertemu, apa yang akan mereka lakukan? Mereka akan bersikap seolah mengacuhkan, bukan? Itu yang ingin aku tunjukkan kepadamu, supaya aku tetap memiliki karisma sebagai seorang gitaris dan kakak kelas yang istimewa di matamu,"
Giliranku yang tertawa lebar. Kamu sangat pandai membuat hatiku berdebar.
"Aku tahu kamu suka makan coklat dan es krim sebagai pengusir rasa sedihmu. Apakah kamu menyadari ada sesuatu yang aneh tentang coklat dan es krim?"
Aku diam sejenak, mengingat kejadian yang aneh tentang coklat dan es krim. Ada, banyak. Aku mengingat banyak hal aneh yang berhubungan dengan dua makanan itu.
"Semenjak kita semakin dekat, kamu sangat sering memberiku coklat dan mentraktirku es krim. Kamu menggunakan alasan-alasan yang sedikit tidak masuk akal tiap melakukan hal itu, tapi bodohnya aku bisa mempercayai alasanmu. Apakah itu sebagian dari rencanamu juga, Mas?"
"Coba tebak," kamu justru menantangku untuk memberikan sebuah argumen.
"Kamu tidak benar-benar memiliki voucher es krim gratis itu, kan? Dan soal coklat, aku juga yakin itu kebohongan. Mana mungkin dalam setiap dua minggu sekali, kamu mendapat kiriman coklat dari pamanmu. Memangnya pamanmu membuka pabrik coklat? Mengapa aku baru benar-benar sadar sekarang,"
"Kamu terlalu mudah dibohongi, Dik. Hahaha,"
"EITSSS..." aku menginterupsi lagi, tidak terima. "Aku hanya bisa dibohongi untuk urusan makanan, bukan perasaan," aku menyunggingkan senyum mengejek dan mengedipkan mataku jahil.
Kamu lagi-lagi tertawa melihatku bertingkah seperti itu.
"Aku senang melihat tawamu yang seperti itu. Rasanya seperti semua beban dalam hidupmu menghilang," aku membeku seketika mendengar kalimat itu tiba-tiba terlontar.
Mas, kamu kakak kelas terbaik yang pernah aku temui. Mengapa kamu bisa mengatur semuanya sedemikian rupa. Kamu memastikanku makan di kantin bersama Iqbal saat aku belum mengenalmu. Beberapa bulan kemudian, saat aku sudah mengenalmu, kamu mengambil alih posisi Iqbal. Kamu yang sering mengajakku makan di kantin. Tidak jarang, aku juga masih sering makan bersama Iqbal. Lantas, es krim dan coklat yang memang merupakan pengusir rasa sedihku, kamu dengan halusnya menawarkan dua makanan itu kepadaku. Kamu sangat berusaha agar aku tidak terus-terusan merasa tertekan. Jiwa seperti apa yang sebenarnya kamu miliki, Mas?
"Dik, saat kamu duduk di kelas dua belas nanti, kamu akan membutuhkan banyak tenaga ekstra. Saat itu juga, aku sudah lulus dari sekolah ini dan aku harus meneruskan perjuanganku untuk kuliah. Aku tidak bisa lagi menjaminmu untuk makan, aku juga tidak bisa lagi menjaminmu untuk tidak banyak pikiran. Aku hanya ingin berpesan, jagalah tubuhmu. Jagalah kesehatanmu. Perceraian orang tuamu tidak harus menjadikanmu selapuk kayu,"
Air mataku menitik beberapa kali, namun langsung aku hapus supaya tidak ketahuan.
"Kita dalam posisi yang sama, Dik. Dalam block notemu kamu berkata bahwa perceraian orang tuamu membuat hidupmu menjadi tidak keruan. Sama, aku juga merasakan hal yang demikian."
Lagi-lagi dadaku sesak. Aku baru tahu jika kamu merupakan korban percerain orang tua juga. Tapi kenapa kamu bisa setegar dan sehebat itu dalam menghadapi kenyataan? Bukankah perceraian orang tua selalu membawa anak-anaknya kepada kesedihan dan kepedihan?
"Aku tidak sekuat itu," tanpa aba-aba, kamu berkata demikian.
"Eh..." jawabku ragu. "Kamu punya bakat untuk mendengar pikiran orang ternyata, Mas."
Kamu tersenyum lagi, ringan. Beberapa detik kemudian, tatapanmu nanar. Aku baru sadar jika dalam sorot matamu juga ada kesedihan yang mendalam.
"Perceraian orang tuaku benar-benar membuatku terpukul, Mas. Aku tidak percaya bahwa sosok tangguh seperti ayahku tega mengkhianati cinta bundaku. Waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMP. Aku sangat membanggakan ayahku, namun tiba-tiba semua berubah. Ayahku ternyata diam-diam memiliki perempuan lain. Bahkan perempuan itu sudah memiliki dua anak hasil pernikahan siri dengan ayahku. Anak tertuanya berusia sekitar tujuh tahun,"
Hatiku kembali teroyak mengingat kejadian itu. Kamu dengan sigapnya langsung mengelus pundakku.


*** TO BE CONTINUED ***