Bukankah seharusnya sekarang aku sudah bisa merelakanmu pergi?
Ini sudah memasuki bulan yang kesekian sejak patah hatiku karenamu. Aku lagi-lagi harus memaksa diriku sendiri untuk melupakan orang yang aku cintai. Sungguh, maksudku, meskipun aku sudah pernah mengalami hal ini namun ternyata rasanya masih sama; sulit. Jika kamu pikir sekarang aku lebih bahagia, kamu salah. Aku hancur. Perasaanku remuk. Aku jauh lebih patah dari sebelumnya. Jauh-jauh lebih patah, dan entah kapan patah hatiku ini akan musnah.
Katamu, kamu paham bagaimana perasaanku saat kamu melakukan hal yang membuatku hancur. Lantas, jika memang kamu paham, mengapa hal itu harus kamu lakukan? Tidakkah kamu sadar bahwa apa yang kamu lakukan itu benar-benar menyakitkan? Mana, katanya kamu sadar? Mana? Tunjukkan sisi sadarmu ada di sebelah mana! Aku ingin tahu. Hatimu kian membeku!
Aku ingin menulis banyak kata,
aku ingin mengungkapkan banyak rasa,
namun semua percuma.
Katamu, kamu paham. Nyatanya, tindakanmu hanya membuat sedihku tidak tertahan.
Sudahlah. Apa pedulimu?
Sakitku tidak pernah kamu pahami.
Kebahagiaanmu tidak pernah menyertakanku.
Kehidupanmu dan kehidupanku mungkin memang... beda.
Aku ingin menyerah,
namun... sudahlah.
Kamu tahu itu semua tidak mudah.