Selasa, 24 Desember 2013

Menutup luka

Kepada masa lalu yang tidak lagi ku harapkan menjadi masa depanku


Mencintaimu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah ku perbuat. Semua penalaranku macet, tersumbat oleh rayuan abal-abalmu. Menunggumu adalah hal yang lebih tidak masuk akal lagi, padahal jelas; kamu tidak menganggap cintaku ada.
"aku minta maaf" merupakan kata-kata yang terlalu sering kamu ucapkan padaku. Apa dengan maaf semua kesakitanku sembuh ? apa dengan maaf semua kekecewaanku sirna ? dan apa dengan maaf, kamu bisa berubah menjadi orang yang mencintaiku sepenuhnya ? jawaban untuk semua pertanyaan itu adalah TIDAK.
Permohonan maafmu selalu ku terima, tapi kamu malah lebih berlaku seenaknya. Kamu kira aku mudah menerima semua pengkhianatanmu ? kamu kira mudah untuk berpura-pura menganggap 'semua baik-baik saja' padahal hatiku menderita ? Selama aku belum melepaskan rasa cintaku untukmu, rasa sakit terus saja bergelayut. Hasil yang akhirnya ku dapat adalah; air mata, kesedihan dan penderitaan.
Aku terlalu mudah kamu bohongi, aku terlalu mudah kamu sakiti, dan aku terlalu mudah untuk menjadi bahan permainanmu. Aku-pun tidak mampu menghitung berapa kali kamu membawaku ke dalam keterpurukan dan kesakitan. Semua hal yang kamu lakukan, terasa begitu wajar di mataku; bahkan disaat kamu terus mengkhianati kepercayaanku dan aku terlanjur rela menerima semua itu. Saat aku lelah dan ingin bersandar, bahumu justru kamu lapangkan untuk orang lain. Sakit...
Dari semua kerelaan yang aku berikan padamu, apa yang kini bisa ku dapat ? Kamu meninggalkanku dengan berjuta penyesalan dan kenangan. Aku menyesali diriku yang terlalu bodoh untuk mencintaimu, aku menyesali diriku yang terlalu serius dengan semua ucapanmu. Jika cinta memang pernah hadir diantara kita, mengapa luka yang harus selalu ku terima ? Adilkah itu, saat kamu mengumbar cinta kepada banyak wanita sedangkan aku terpuruk sendirian menggenggam cinta palsumu ? ADILKAH ITU ?
Untukmu aku rela sakit, walau dimatamu, cintaku tak pernah kamu anggap nyata. Kita memang masih remaja, tapi salahkah jika aku memohonmu untuk serius hanya kepadaku ? Apakah harus menunggu umur 20 tahun ke atas dahulu baru kamu bisa menghargai cintaku ? Serendah itukah penglihatanmu tentang cinta ? Ataukah justru aku yang terlalu berlebihan dalam menganggap cinta ?
Kamu terlalu bermakna di hidupku, namun aku terlalu abstrak di hidupmu. Kini aku sadar, cintamu memang bukan untukku. Pengandaianku kepadamu memang terlalu tinggi. Dan penglihatanku tentang cinta memang berbeda jauh dengan penglihatanmu.
Kamu pernah hadir di hidupku dan menjadi tempat terindah yang pernah ku singgahi. Tapi aku sadar, tempat terindahku bukanlah tujuan terindahku. Sekarang aku tahu bahwa aku harus beranjak dari tempat terindahku demi menggapai tujuan terindah. Perangkapmu terlalu menjeratku, namun aku akan berusaha keras untuk melepaskannya. Aku harus pergi darimu, meninggalkan semua kenangan tentang kita di masa lalu. Meninggalkan cinta dan luka yang datang silih berganti untuk menemukan orang yang paling tepat yang telah disiapkan oleh Tuhan untukku.
Kamu yang sempat menjadi masa laluku, kini tidak lagi ku harap menjadi masa depanku. Lupakan semua cintaku untukmu, karena itu telah berlalu. Aku tidak lagi ingin menggores luka yang sama darimu. Semoga wanita-wanita diluar sana tidak kamu perlakukan sama sepertiku. Semoga kamu menjaga hati wanita yang kini ada di hidupmu. Suatu saat kita bertemu, dengan kamu yang sudah dewasa dan bisa menghargai cinta sepenuhnya.

Dari orang yang pernah mencintaimu dengan begitu tulus