Ternyata, tanpamu semua berbeda. Tanpamu, hal yang seharusnya manis menjadi miris. Tanpamu, senyumku terasa tak berarti. Dan yang terpenting, tanpamu, aku merasa sepi. Ini sudah kali ke... ah, entahlah. Aku sampai tak sanggup menghitungnya. Aku datang lagi ke tempat ini, sayang. Tempat kita dulu sering menghabiskan waktu bersama. Tempat dimana aku pernah menangis bercucuran di hadapanmu. Juga tempat dimana kita pernah merencanakan masa depan bersama.
"Nanti kalau nikah, gak perlu mewah-mewah, kan ? sederhana aja asal rumah tangga kita nggak berantakan. Mewah nggak menjamin awet." Sejenak aku tertegun. Mataku mungkin sudah berkaca-kaca saat itu. Kamu ingat, saat itu kita baru menginjak kelas 3 SMA.
"Jangan mikir sampe sana. Masih banyak hal yang perlu kita lalui." Aku mengelak, namun dalam hati bersorak.
"Perencanaan itu perlu. Bu Indri kan pernah cerita, kalau beliau merencanakan pernikahannya sejak awal masuk kuliah. Dan sekarang, rumah tangga bu Indri harmonis, kan ?"
Aku tersenyum kecil mendengar ucapannya. "tapi kita baru kelas 3 SMA, sayang. Beribu ujian masih akan membentengi kita."
"Justru itu. Kalau Bu Indri merencanakan rumah tangganya sejak awal kuliah dan kini terwujud begitu harmonis, harusnya kita bisa melampauinya karena kita sudah melakukan perencanaan mulai sekarang." Dadaku berdebaran saat melihat mimik wajahnya yang terlihat begitu serius.
"Lalu jika sebelum menikah, hubungan kita kandas terlebih dulu dan jarak yang tak terjangkau memisakan kita, apa yang harus aku lakukan ? Tunggu, maksudku, apa yang harus kita lakukan dengan perencanaan yang sudah kita bangun ?"
Matanya sedikit menyipit. Lalu menoleh ke arahku. Ekspresinya terlihat yakin, "aku akan berkeliling dunia untuk bisa menemukanmu, lantas menikahimu dan rencana-rencana kita tidak akan ada yang terbuang sia-sia." Air mataku menitik. Entah apa yang saat itu ku rasakan. Kebahagiaan atau malah ketakutan. Semua terasa beradu menjadi pilu. Aku bahagia mendengar ucapanmu, sayang, namun aku juga takut kalau itu semua hanya-lah sebuah rencana yang tidak dapat diwujudkan. Aku takut jika ternyata takdir tidak mengijinkan kita untuk bersatu. Lantas, siapa yang harus ku salahkan jika memang takdir kita tidak untuk bersama ? Peluk aku, seerat-eratnya. Yakinkan aku kalau kita memang dipertemukan untuk bersatu.
Kini segala ketakutanku terbayar. Tepat lima minggu setelah perencaan itu kita bicarakan, takdir tak lagi memberikan kita waktu bersama. Takdir ingin segera mengakhiri hubungan kita, mungkin dengan dalih supaya perencanaan kita tidak bertambah matang. Sayang, akhirnya takdir menjadi juru hukum yang -mungkin- adil di tengah kemelut pertengkaran kita. Kita bertengkar hebat saat itu. Bahkan aku sempat mengumpatmu, aku bilang bahwa aku menyesal telah mencintaimu dan menyesal telah berkhayal terlalu tinggi untuk hidup di masa depan bersamamu.
Wajahmu memerah, kamu kesal ? Sepadankah kekesalanmu dengan perlakuanku ? Tidak pantaskah aku marah saat aku melihatmu tengah bergandeng mesra dengan wanita lain. Andai saja kita tak pernah merencanakan masa depan bersama, mungkin kekecewaanku tak akan sebesar itu. Kekecewaanku mungkin hanya berhenti di kata "putus" dan tidak berlanjut untuk mengumpatmu. Kian lama waktu bergulir, aku menyesal telah mengeluarkan kata-kata kasar padamu. Kata-kata itu yang menjadikan jarak kita terbentang begitu jauh. Aku mengusahakan diri sebaik mungkin agar tidak mengingat momentum itu. Adu mulut kita yang berakhir dengan sebuah tamparan melayang di pipimu. Dan akhirnya menjadi awal dimana kita tidak lagi saling berkomunikasi. Aku mencari berbagai kesibukan, sayang. Untuk apa ? Supaya aku tidak memiliki sedikitpun waktu untuk memikirkanmu. Memikirkan rencana-rencana indah yang dulu kita bangun dengan megah, namun tak sedikitpun dapat kita cicipi realisasinya. Semua kesibukan yang aku jalani, tak semata-mata langsung membuatku lupa padamu. Kesibukan-kesibukan itu semakin membuatku ingin memikirkanmu.
Aku masih punya satu harapan. Ya, sebuah harapan yang saat itu membuatku sukses meluncurkan air mata. Harapan besar saat dimana kamu berkata bahwa, "jika takdir memisahkan kita sebelum kita menikah dan jarak yang tak terjangkau menjauhkan kita, maka aku akan berkeliling dunia untuk mencarimu lalu menikahimu."
Aku berkhayal terlalu tinggi lagi, sayangku. Aku membayangkan pertemuan kita kelak di kemudian hari. Pertemuan yang merubah segala mega mendung di hidupku terbang menghilang. Pertemuan yang benar-benar akan menyatukan kita di pelaminan. Menjalani hari-hari membahagiakan, yang bahkan tidak pernah kita rencanakan.
Ini sudah memasuki tahun ke-lima sejak pertengkaran kita yang juga terjadi di tempat ini, di taman kota yang seharusnya menjadi tempat favorit kita sampai kapan-pun. Aku dengar, kini kamu kuliah di Jerman dan mendapat beasiswa, benarkah itu, sayang ? Kamu memang luar biasa. Aku masih ingat, saat kamu menyampaikan keinginanmu padaku; bahwa kamu ingin mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Jerman. Entah beberapa waktu yang lalu, keinginanmu tercapai. Selamat atas prestasi membanggakanmu itu, sayang.
Tanpamu, waktu memang terus berjalan. Tanpamu-pun, aku masih sanggup menghirup napas dengan leluasa hingga saat ini. Tapi, tanpamu, aku seperti seseorang tanpa jiwa. Penyesalanku selalu mengambang di ubun-ubun. Andai saat pertengkaran itu aku mampu mengendalikan emosi yang mengendap, mungkin sampai saat ini, rencana-rencana masa depan kita masih dapat tersusun secara sistematis.
Aku bahkan lupa bagaimana lekukan-lekukan wajahmu; saking lamanya kita tidak bertemu. Terakhir, kita bertemu di acara reuni SMA, dua setengah tahun yang lalu. Saat itu-pun, kamu membisu demikian denganku. Kita seperti sedang menjalani perang dingin. Sorot matamu yang biasanya menjadi sumber kenyamanan, mendadak beralih fungsi sebagai sumber penyesalan. Jujur, itu membuatku teriris. Aku ingin meronta saat itu. Aku ingin berteriak dan memohon maafmu; andai aku mampu. Namun sayangnya, aku tak seberani itu. Kesalahanku memang timbul dari kesalahanmu juga. Itu berarti, kita berdua sebenarnya salah. Tapi aku tidak ingin menyalahkanmu, sayang. Aku ingin kamu kembali seperti dulu. Aku ingin di setiap malam hariku, ada satu orang yang membuatku ingin terus terjaga; kamu.
Kurasa cukup untuk hari ini. Karena tanpa sadar, aku telah terlalu larut berada di taman ini. Waktu terasa tak menentu saat aku berkhayal terlampau tinggi untukmu. Kamu masih akan menepati janjimu, kan ? Berkeliling dunia untuk menemuiku, lalu menikahiku, dan mewujudkan rencana-rencana kita di kelas 3 SMA dulu. Aku menunggumu, sayang...
Kurasa cukup untuk hari ini. Karena tanpa sadar, aku telah terlalu larut berada di taman ini. Waktu terasa tak menentu saat aku berkhayal terlampau tinggi untukmu. Kamu masih akan menepati janjimu, kan ? Berkeliling dunia untuk menemuiku, lalu menikahiku, dan mewujudkan rencana-rencana kita di kelas 3 SMA dulu. Aku menunggumu, sayang...