Matanya menatapku penuh selidik. Kami duduk berhadapan di pendhopo. Kedua tangannya menggenggam tanganku erat dan hangat. Wajahku tertunduk, air mata nyaris menetes.
"apa yang kamu rasakan ?" suaranya begitu lembut, membuatku ingin mendengarnya sepanjang waktu. Tangan kanannya menyusuri pipiku. Gejolak semakin ku rasakan karena kenyamanan yang tersalur dari jemari - jemarinya.
Dengan berani akhirnya aku menengadahkan kepala, mengawasi bola matanya yang sudah bersilauan aura bingung beradu ngilu. Dengan suasana yang seperti ini, lengkungan senyum di bibirnya masih tersungging. Aku tahu, itu senyum penuh keterpaksaan.