Minggu, 14 April 2013

*AKHIR* Kami Bersatu Dalam Sebuah Perjalanan Menuju Pulau Dewata

Matanya menatapku penuh selidik. Kami duduk berhadapan di pendhopo. Kedua tangannya menggenggam tanganku erat dan hangat. Wajahku tertunduk, air mata nyaris menetes.
"apa yang kamu rasakan ?" suaranya begitu lembut, membuatku ingin mendengarnya sepanjang waktu. Tangan kanannya menyusuri pipiku. Gejolak semakin ku rasakan karena kenyamanan yang tersalur dari jemari - jemarinya.
Dengan berani akhirnya aku menengadahkan kepala, mengawasi bola matanya yang sudah bersilauan aura bingung beradu ngilu. Dengan suasana yang seperti ini, lengkungan senyum di bibirnya masih tersungging. Aku tahu, itu senyum penuh keterpaksaan.

"aku nggak yakin sama keputusan kita." Ucapku lesu. Vanilla shake yang sedari tadi berada di hadapanku belum ku jamah sama sekali. Wajahku kembali tertunduk. Aku rasa, sekarang dia menatapku dengan nanar. Ada sedikit jeda yang terkibar.
"kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu. Aku membutuhkanmu di sisiku, dan pastinya kamu tahu itu. Ini cara terbaik untuk kita."
Kamu mencintaiku sama seperti aku mencintaimu ? dalam hati ku ulangi kalimatnya. Benarkah rasa cintamu sebesar itu ? Haruskah aku percaya pada kata - katamu yang sering membuatku melayang itu ? Walau dalam hati aku percaya, kamu mengucapkan kata - kata yang jauh lebih mesra pada kekasihmu.
"ini bukan tentang mencintai maupun membutuhkan." Aku mengambil nafas sejenak. "tapi ini tentang kesakitan." Hatiku teriris mengucap kalimat tersebut. Ada sakit batin yang terendap di balik kalimat itu.
Jemarinya semakin erat menggenggam tanganku.
"apa yang kamu ragukan ? siapa yang tersakiti ? kamu mencintaiku, dan aku-pun demikian. Bukankah itu modal yang cukup untuk membuktikan perasaan kita masing - masing ?" 
"kamu mencintaiku ? maksudnya, kamu mencintaiku jauh setelah kekasihmu ? kamu hanya tidak tahu, bahwa berada dalam posisiku maupun posisi kekasihmu, itu sama - sama menyedihkan. Tidak ada orang yang menginginkan posisi itu. Dan kebetulan, aku sudah merasakan berada dalam posisi - posisi yang miris tersebut." Nada bicaraku sedikit lebih tinggi, tapi masih ku kontrol supaya tidak menjadi pusat perhatian. Aku menyeringaikan senyum dibalik kalimat yang penuh nestapa tadi.
"aku tidak main - main dengan perasaanku. Aku mencintaimu." Balasnya mantap.
"tunggu, lalu perasaan apa yang kamu berikan pada kekasihmu ? cinta juga ? kenapa banyak sekali cinta yang engkau sebarkan ?" Aku masih menyelipkan senyum di akhir kalimat. Wajahku sudah pasti berubah menjadi merah menyala karena emosi yang terpendam.
Dia diam, mulutnya terkunci rapat. Aku melepaskan tanganku dari genggamannya. Sebisa mungkin ku tahan air mata supaya tidak menetes sedikitpun. Aku tak pernah bisa berlaku kasar padanya, bahkan jika itu hanya pura - pura.
"apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya ? aku merasa sangat kehilanganmu saat dulu kita berpisah." Tanganku mengetuk - ngetuk meja dengan perlahan. Pandanganku terlempar ke samping kanan, tepatnya ke jalan raya, mengamati kendaraan yang berlalu lalang.
Saat itu, aku jauh lebih kehilangannya. Bagaimana mungkin dia merasa kehilanganku, karena faktanya dalam kurun waktu dua hari sudah ada pengganti posisiku dalam hidupnya.
Udara malam semakin mencekatkan suasana. Hembusan angin dingin menusuk hingga ke tulang - tulang. Aku tahu, kisahku ini bukanlah seperti cerita di sinetron - sinetron yang kebanyakan akan happy ending. Segala sesuatu yang tidak mungkin, menjadi sangat mungkin terjadi dalam sinetron.
Aku juga sadar, bahwasanya aku-lah yang salah jalur. Aku tidak seharusnya berada pada lintasan dimana mereka tengah berjalan bersama untuk menata hubungan. Tapi apa yang bisa ku lakukan. Aku mencintainya sejak dulu, dan kini dia memberiku ruang untuk kembali masuk dalam hidupnya.
"boleh aku bertanya padamu ?" dia kembali membuka percakapan. "tentu." Jawabku dengan suasana hati yang lebih baik dari sebelumnya.
"jika kamu dihadapkan pada dua pilihan yang sama - sama membuatmu bahagia, dimana pilihan A adalah sesuatu yang telah lama menghabiskan waktunya denganmu, dan pilihan B adalah sesuatu yang telah mengajarkanmu arti kesetiaan, mana yang akan kamu pilih ?" Aku berani menatapnya saat ini.
"aku tidak akan memilih keduanya. Karena menurutku, dua pilihan yang sama - sama menguntungkan sebenarnya ada bukan untuk dipilih, tapi untuk menguji. Saat kamu memutuskan untuk memilih salah satu dari kedua pilihan itu, suatu saat kamu akan menyesal karena telah menyia - nyiakan satu pilihan yang lain." Bola mataku menatap hangat sosok di depanku ini. Aku tahu, siapa yang dia maksud sebagai pilihan A dan siapa yang dia maksud sebagai pilihan B.
"aku juga mau bertanya." Dia diam beberapa detik, lalu menjawab "silakan."
"jika kamu sedang berada pada posisiku, kemana kamu akan pergi. Memilih untuk terus bersama orang yang notabene telah menjadi kekasih orang lain, atau berusaha untuk melupakannya walau kamu sangat mencintainya ?" dia menarik nafas, dalam. Tatapannya mendadak kosong. "sudah, lupakan. Aku hanya bercanda." Aku tersenyum. Sebenarnya yang aku ingin lihat adalah reaksinya setelah pertanyaan itu aku lontarkan. Ekspresinya secara spontan berubah, dia bimbang untuk memilih satu diantara dua pilihan yang sama - sama menyakitkan itu. Aku tersenyum, dan dengan berani akhirnya aku menggenggam tangannya.
"aku ingin mengakhiri hubungan kita, karena aku tahu ini tidak sehat. Aku tahu kamu mencintai kekasihmu dengan tulus, dari sorotan matamu sudah menggambarkan hal itu dengan jelas. Dan aku tidak ingin ada masalah diantara kalian yang disebabkan olehku." Alisnya mengkerut, mungkin dia tidak percaya aku akan mengucapkan kalimat yang seperti ini.
"aku mencintaimu, sejak dulu dan entah sampai kapan. Aku akan mencintaimu dengan caraku sendiri, tanpa aku harus masuk dalam hubungan kalian. Aku dan kamu akan tetap berkomunikasi seperti biasa, hanya bedanya, tidak akan seromantis seperti beberapa bulan terakhir ini." Aku tetap tersenyum untuk menyembunyikan rasa sakit yang sekarang menghujam batinku secara keras.
"kenapa kamu berucap seperti itu ? masalah apa yang kamu maksud ? kamu lihat, selama ini tidak ada masalah sama sekali, kan." Bibirku bergetar, pelupuk mataku sudah terpenuhi oleh timbunan air mata yang ingin segera di teteskan.
"bukannya tidak ada masalah, tapi belum ada masalah. Kamu tidak tahu ke depannya akan seperti apa. Dan sebelum masalah itu muncul, akan lebih baik jika kita mencegahnya." Dia tertunduk lesu, mungkin perasaannya sehancur perasaanku atau mungkin belum sehancur itu karena aku rasa, akulah pihak yang menderita. Dia masih punya kekasihnya, sementara aku hanya akan bersemayam dengan bayangan - bayangan akan dirinya.
"aku harus pulang sekarang. Semoga masa depanmu indah. Sekali lagi, aku mencintaimu dengan alasan yang sudah berulang kali aku sebutkan, kenyamanan." Dia tidak berkutik, tubuhnya mematung. Aku mengambil tas dan segera beranjak dari tempat itu. Air mata berceceran kemana - mana.
Kamu tahu, aku menahan sakit saat mengucapkan kalimat demi kalimat itu tadi. Kamu tahu, untuk siapa air mata ini ku persembahkan ? kamu tahu, dari siapa kebahagiaan ini di ciptakan ? kamu tahu, siapa yang aku harap bisa menjadi masa depanku kelak ? semua jawabannya adalah, kamu.

Setelah kejadian itu, komunikasi kami masih berjalan normal. Hingga akhirnya, beberapa bulan kemudian menjadi berhenti total. Kini, kami berbeda lokasi, kami berbeda tujuan, dan kami tidak lagi saling menghiraukan. Tunggu, maksudku, dia tidak lagi menghiraukanku. Aku turut bahagia, karena apa - apa yang membuatmu bahagia juga mengikut sertakan kebahagiaanku.
Terimakasih telah memberikan hari terindah dalam hidupku saat perjalanan menuju Pulau Dewata. Terimakasih telah memberikan hari - hari yang indah setelahnya, dan juga terimakasih kini semakin mengajarkanku arti setia.
Aku bukannya menyerah untuk mencintaimu, tapi aku ingin rehat sejenak karena aku lelah. Aku lelah terus mengharapkan ketidak pastianmu, aku lelah terus mengharap masa depan bersamamu karena kamu selalu mematahkan angan - angan itu.

END