Bolehkah aku membuat pengakuan ?
Tentang aku, tentang perasaanku, untukmu...
Semua terjadi begitu saja. Tenang, bagai air mengalir menyusuri arus sungai. Membawaku kalut pada perasaan yang -terkadang- membawa kebahagiaan. Ya, aku menyebutnya terkadang karena kenyataannya memang begitu. Perasaan ini, selain membawa kebahagiaan juga mampu membawa kepedihan.
Kamu membuatku mampu untuk membuang luka lama. Dengan caramu yang sungguh sederhana, kamu bisa membantuku merapikan puing-puing hati yang hancur berantakan. Kamu membuatku berani untuk bermimpi lagi, hingga pada akhirnya aku -merasa- membuat kesalahan yang sama; memimpikan masa depan bersamamu...