Sabtu, 18 Februari 2017

Teruslah Menjadi Orang yang Bisa Memaknai Cinta Secara Nyata

Hari itu merupakan hari pengambilan hasil laporan belajar siswa. Ada jadwal khusus yang selalu diselenggarakan setiap kali hari penerimaan raport tiba; pentas seni. Di pentas seni itu, hampir semua bakat akan ditampilkan. Mulai dari dancing, singing, dan berbagai macam hal lain yang tidak kalah menyenangkan. Diselipkan pula pengumuman pemenang lomba selama class meeting. Sungguh, diselenggarakannya pentas seni merupakan suatu kegembiraan tersendiri bagi setiap murid. Mereka bisa menunjukkan bakat mereka dan tertawa suka ria. Rasanya beban selama ulangan akhir semester menghilang seketika.
Kala itu, Mas, kamu bersama bandmu tampil memeriahkan suasana. Kamu yang selama beberapa kali menjadi teman sebangkuku saat menghadapi ujian semester. Ini merupakan kali terakhir kamu tampil di acara pensi sekolah. Meskipun statusmu sejak beberapa minggu yang lalu sudah resmi menjadi 'alumni', namun angkatanmu tetap diundang untuk ikut menghebohkan.
"Jangan lupa liat penampilan bandku ya, Dik," pesan singkatmu masuk ke ponselku pagi-pagi buta. Tentu saja aku tidak lupa. Aku akan bersemangat tiba untuk melihat penampilanmu, Mas. Mungkin ini adalah kesempatan terakhirku melihatmu bermain dengan gitar kesayanganmu. Mungkin masih ada lain waktu, tapi aku tidak tahu kapan tibanya waktu itu. Kamu akan segera sibuk dengan dunia kuliahmu, dan aku harus segera mempersiapkan diri untuk ujian nasionalku.
Bandmu, The Marvell, akhirnya tampil. Aku berusaha mencari tempat duduk tepat di depan panggung, namun semuanya penuh. Terlalu banyak yang berantusias untuk melihat pensi kali itu. Kamu memperhatikan sekitar, tampak sedang mencari seseorang, namun entah siapa yang kamu cari. Wajahmu sedikit cemas, tidak seperti biasanya yang tampak tenang.
Aku berdiri di samping panggung, dikelilingi oleh banyaknya kerumunan orang. Kamu mungkin tidak bisa melihatku dari atas sana, Mas. Tapi tenanglah, aku akan tetap menyaksikan penampilanmu meskipun tempatku berdiri sangatlah panas.
Kamu duduk, memangku gitar kesayanganmu. Tepat menghadap ke arahku. Namun, aku tidak yakin apakah kamu melihatku. Matamu masih saja sibuk mencari, mimik wajahmu juga masih saja terlihat cemas. Siapa yang sedang kamu cari, Mas?
Penampilan bandmu dimulai, lagu pertama yang dibawakan waktu itu adalah lagu dari SUM 41 berjudul With Me. Aku tersenyum senang mengikuti alunan lagunya, aku memang sangat menyukai lagu ini. Aku sempat memberitahumu tentang hal itu, dan entah secara kebetulan atau tidak bandmu membawakannya.
Matamu masih sibuk mencari, permainanmu terlihat tidak sebaik biasanya. Apakah hatimu sedang risau?
Sesaat, saat kamu menatap ke tempat di mana aku berdiri, aku mengangkat tanganku dan melambaikannya ke arahmu. Kamu menatapku, lekat. Lalu dalam sekejap, kamu tersenyum. Mimik wajahmu berubah cerah. Apakah memang sedari tadi yang kamu cari adalah... aku?
Kamu berulang kali melihat ke arahku, lalu tersenyum, fokus lagi bermain gitar, melihat ke arahku, tersenyum, dan begitu seterusnya hingga penampilanmu usai.
Bandmu membawakan tiga lagu saat itu, dan selama itu, kamu selalu menyempatkan diri untuk melempar pandangan ke arahku... lalu tersenyum.
Seusai lagu ketiga, kamu dan teman-temanmu mengucapkan terima kasih lantas turun dari panggung. Ada yang aneh, semua temanmu turun melalui tangga belakang, namun kamu justru turun melalui tangga samping. Berjalan dengan pasti menuju ke arah di mana aku berada. Saat itu, banyak orang yang memperhatikanmu, Mas, Bahkan ada beberapa orang yang berteriak saat kamu menyapaku. Aku yakin bahwa yang berteriak itu adalah siswa kelas 10. Mereka mungkin penggemarmu yang tidak rela kamu mendekati perempuan lain.
Kamu berdiri tepat di hadapanku, sembari tanganmu menggenggam gitar. Tersenyum manis, lantas mengajakku duduk di tangga dekat perpustakaan. Di situ cukup sunyi, karena lokasinya jauh dari halaman sekolah tempat di mana pensi diselenggarakan.
"Gimana tadi. Bagus, kan?" Tanyamu tepat sebelum aku duduk di anak tangga.
"Luar biasa," jawabku bangga. "Eh, Mas..." Lanjutku, terpotong.
"Ya, Dik?"
"Tadi kenapa pas awal-awal penampilan, permainanmu sedikit kacau? Kamu juga kelihatan mencari seseorang," tanyaku langsung pada poinnya.
Kamu tersenyum, cukup lebar hingga barisan gigimu terlihat.
"Kamu nggak tahu siapa yang aku cari?"
Pertanyaan itu langsung aku jawab dengan sebuah gelengan kepala.
"Aku mencari kamu, Dik. Aku cemas kamu nggak melihat penampilanku. Padahal lagu yang pertama ditampilkan kan lagu kesukaanmu," napasku tercekat, nyaris aku menyemburkan minuman yang baru saja aku teguk.
Aku menoleh ke samping, mengamati lamat-lamat sosok kakak kelas yang sudah terlalu baik ini.
"Mas..." ucapku ragu. "Kamu nggak lagi becandain aku, kan?"
Senyummu lamat-lamat tersungging lagi.
"Enggak, Dik. Ini tahun terakhirku tampil di pensi sekolah. Aku ingin menampilkan sesuatu yang disukai oleh orang teristimewaku,"
Aku diam, mendengarkan dengan seksama. Bola matanya menatap tajam ke mataku.
"Aku sempat beradu argumen dengan anggota band, mereka memarahiku habis-habisan karena tidak banyak yang tahu kunci lagu ini," kamu berhenti, mengambil napas untuk melanjutkan kalimatmu.
"Kalau kamu sempat memperhatikan, lagu kedua dan lagu ketiga yang tadi dibawakan sama dengan lagu yang dulu pernah dibawakan saat pensi. Harusnya lagu pertama juga lagu yang pernah dibawakan dulu, Dik."
Matamu semakin menatapku lekat.
"Tapi aku dengan berbagai cara mencoba merayu anggota band supaya mau menampilkan lagu ini. Akhirnya, setelah lama beradu argumen, mereka mengiyakan permintaanku. Saat itu, ada satu lagi permintaanku, yaitu supaya lagu ini ditampilkan diurutan terakhir. Namun mereka menolaknya. Mereka mengancam tidak akan menampilkan lagu ini jika aku terlalu banyak permintaan."
Pipiku terasa panas, mataku bahkan tidak berkedip beberapa detik untuk memperhatikan cerita itu.
"Aku nggak tahu kenapa kamu sampai melakukan hal seperti ini, Mas."
"Dik. Kamu pernah cerita ke aku kalau kamu sangat suka lagu itu, dan sangat berharap akan ada seseorang yang menampilkannya di depan umum untukmu. Aku berusaha mewujudkan harapanmu. Lagu tadi tulus aku bawakan untukmu."
"Tapi kenapa? Kita bahkan baru mengenal satu tahun, Mas."
"Meskipun kamu baru mengenalku selama satu tahun, namun rasanya aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun. Aku membaca semua postingan di blog kamu. Cerita yang kamu tulis di sana, seolah menggambarkan siapa kamu sebenarnya. Aku bisa mengenalmu hanya dari tulisan-tulisanmu."
Aku terdiam, kehabisan kata-kata.
"Tidak perlu membalas ucapanku jika memang kamu kehabisan perkataan. Biar aku saja yang menjelaskan," aku tertegun sejenak. "Pertemuan pertamaku dengan kamu, masih sangat aku ingat, Dik." Lanjutmu kemudian.
"Pertemuan pertama kita waktu ujian mid semester satu kan, Mas? Saat itu aku masih di kelas 10, masih culun-culunnya."
Kamu tersenyum, lantas menggeleng.
"Bukan. Jika kamu mengira itu pertemuan pertamamu denganku, maka anggap saja begitu. Tapi tidak denganku. Aku pertama kali mengenalmu saat kamu masih dalam masa orientasi,"
"Bagaimana bisa?" Tanyaku tidak percaya.
"Kamu ingat saat ada latihan PBB? Waktu itu kamu pingsan, dan langsung dibawa ke UKS. Tidak ada petugas PMR saat itu. Panitia MOS hanya mengobatimu sekenanya. Beberapa menit kemudian, kamu sadar. Lalu, panitia yang menungguimu mulai meninggalkan ruangan UKS untuk membantu para panitia lain yang masih kerepotan."
"Lalu di bagian mana kamu bertemu denganku, Mas? Kamu bukan salah satu panitia yang ikut merawatku di UKS, kan?"
Kamu menggeleng lagi.
"Bukan," Senyummu mengembang sedikit. "Saat itu aku juga sedang berada di UKS. Tidur di ruang dalam. Tiba-tiba kamu merintih, dan tidak ada orang di sana selain aku. Mau tidak mau aku mendekat ke arahmu. Badanmu cukup panas. Aku tidak ingin mengganggu panitia yang sedang kerepotan, oleh sebab itu aku putuskan untuk mencari kompres dan mengobatimu. Rupanya kamu kehilangan separuh kesadaranmu kala itu."
Aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Mataku semakin membesar, memperhatikan ceritamu dengan penuh perasaan. Kamu tersenyum tipis, lalu melanjutkan kalimatmu.
"Block notemu terjatuh di lantai, dan aku mengambil lalu dengan lantang membacanya. Awalnya aku hanya ingin membaca satu dua halaman, namun tulisanmu berhasil membuat hatiku turut remuk berantakan dan juga membuatku semakin penasaran. Aku membacanya hingga akhir halaman. Di sana tertulis alamat blogmu. Dari hari itu, aku mulai mencari tahu tentang kamu."

*** TO BE CONTINUED ***