Jumat, 17 Februari 2017

Semoga Kamu tidak Pandai Mematahkan

Untukmu, yang berhasil membuatku merasa tenang dan nyaman.

Tuan, entah perasaan ini datang dari mana. Tiba-tiba semuanya muncul, tanpa pernah aku menyangka. Kamu yang sudah cukup lama aku acuhkan, mendadak berubah menjadi orang yang sangat ingin aku perhatikan.
Hari ini jurusan kita mengadakan orientasi mahasiswa baru. Saat ini pun, aku memang sedang berada dalam mood terburukku. Aku hanya ingin mengeluh dan mengumpat. Aku sangat jarang mengumbar senyum dan terlalu banyak memberikan tatapan sinis. Rasa-rasanya kamu paham bahwa suasana hatiku sedang tidak baik. Aku pun tidak tahu pasti apa yang membuatku merasa sangat buruk seperti ini.
Aku lebih banyak menyendiri. Menatap nanar layar ponsel. Berusaha sibuk padahal pikiranku kosong. Lalu tiba-tiba kamu datang, duduk menyejajariku. Diam beberapa detik, lantas tiba-tiba tanganmu mengayun di depan wajahku.
"Kamu kenapa?" Tanyamu singkat dan membuyarkan lamunanku.
"Gak kenapa-kenapa," jawabku, berbohong.
Diam lagi, lebih panjang dari sebelumnya. Lalu tiba-tiba, tidak tahu mendapat arahan dari mana, jariku mengetikkan beberapa patah kata di ponselku, dan aku menunjukkannya kepadamu. Isi dari tulisan itu adalah, aku sedang malas berada di sini. Aku ingin pergi, karena ada tiga orang yang membuatku sakit hati. Dan bisa dibilang bahwa tiga orang tersebut cukup dekat denganku. Namun, sungguh, hari ini mereka bertiga berubah menjadi orang yang sangat menyebalkan. Bukan hanya aku yang merasa seperti ini, ada juga beberapa orang lain yang berpikiran demikian. Mereka bertiga terlalu menunjukkan sisi keegoisannya kepada banyak orang.
Kamu paham. Lalu tiba-tiba berdiri. Menarik tanganku, mengajakku pergi berkeliling sekitar kampus dengan berjalan kaki. Sepanjang jalan, kamu memancingku untuk bercerita tentang perasaan apa yang sebenarnya sedang aku rasakan. Aku, tanpa sadar bercerita panjang lebar. Hal yang sangat jarang aku lakukan. Dan hal yang lebih mengagetkan adalah, saat aku selesai menceritakan semuanya, ternyata kami sudah tiba di halaman rektorat. Padahal jarak dari fakultas kami menuju halaman rektorat bisa dibilang cukup jauh, lebih dari satu kilometer. Ada apa ini, tuan? Mengapa aku tidak menyadarinya sama sekali.
"Kita benar-benar sudah di halaman rektorat?!" Teriakku histeris, tidak percaya dengan tempatku berada sekarang.
Kamu hanya tersenyum, tuan. Senyum yang -baru aku sadari- cukup menawan. Kemana perginya semua mood burukku? Lenyap seketika. Tidak tersisa sama sekali. Rasanya sangat lega dengan keberadaanmu yang berhasil mengusir suasana buruk di dalam diriku. Aku tersenyum, pun kamu juga tersenyum.
"Lain kali, jika suasana hatimu memburuk, cobalah temukan seseorang yang bisa kamu ajak bercerita. Jangan hanya kamu pendam sendirian, karena itu akan terasa semakin menyakitkan," sungguh, mendengar perkataanmu yang seperti itu, aku merasa sedikit menyesal karena terlalu sering mengabaikanmu. Hatimu baik, tuan.
"Terimakasih," ucapku tulus. "Aku lapar," lanjutku, mendelik.
"Aku tahu. Perutmu sudah berbunyi beberapa kali, sangat keras sampai aku bisa mendengarnya." Lagi-lagi kamu tersenyum. Menyenangkan sekali berada di sampingmu. Aku tidak pernah menyangkanya.
Kami menghabiskan waktu kurang lebih satu jam untuk makan, ditemani dengan cerita ringan. Rasanya nyaman, dan aku ketagihan. Aku ingin memiliki waktu yang lebih lama bersamamu, tuan.
Perasaan macam apa ini? Kamu yang sedari dulu tidak pernah aku perhatikan, bahkan saat berpapasan pun tidak pernah aku berikan senyuman, tiba-tiba membuat hatiku berdebaran. Rasa ini terlalu membuatku penasaran.
Tuan, aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya. Seperti apa kepribadianmu yang sesungguhnya. Aku hanya berharap bahwa kamu bukanlah orang yang pandai mematahkan hati perempuan. Semoga kamu memang bukan orang yang seperti itu, ya.
Rasa nyaman ini, biarlah aku pendam dalam hati. Biarlah aku yang merasakannya tanpa perlu menyuruhmu mengerti. Semakin hari, kamu semakin baik. Kamu semakin membuatku merasa tenang dan aman.
Terimakasih telah berbagi kebaikan kepadaku, tuan.