Jika mendengar kata layang-layang, apa yang kalian bayangkan?
Bagiku, layang-layang adalah bukti perjuangan.
Dahulu, sewaktu aku masih kecil, aku harus merakit sendiri layang-layang yang ingin aku terbangkan. Aku membeli badan layang-layang, lalu juga benangnya. Untuk ekor layang-layang, aku harus membuatnya sendiri. Lantas setelah semua itu terkumpul, aku harus merakitnya agar bisa terbang.
Tidak mudah menerbangkan layang-layang. Hanya sebagian orang yang berhasil, selebihnya banyak yang menyerah dan memilih menyuruh orang lain untuk menerbangkannya.
Kamu...
Kamu layaknya layang-layang yang sedari dulu sudah aku rakit. Aku merakitmu penuh cinta. Aku berusaha menerbangkanmu supaya kamu bisa melihat dunia yang luas dari atas sana. Aku harus menarik-ulur benang agar kamu tetap bisa di atas, tapi aku juga harus menjagamu agar tidak lepas. Berhasil. Dengan sedikit banyak perjuangan yang aku lakukan, dengan sedikit banyak keluhan yang aku lontarkan, akhirnya layang-layangku terbang. Semakin hari semakin meninggi. Aku tidak lelah memastikan bahwa layang-layangku baik-baik saja di atas sana. Aku menarik-ulur benang agar supaya layang-layangku tetap bisa terbang. Harapanku hanya satu, yaitu supaya layang-layangku tidak terbang putus dari benang dan akhirnya menghilang. Jangan, karena hal itu akan membuatku merasa sangat kehilangan.
Aku tersenyum bangga melihatmu yang semakin hari semakin mantap berada di atas sana. Aku senang karena setidaknya aku bisa menghantarkanmu di titik di mana kamu berada sekarang. Aku amat senang.
Namun, kesenanganku hanya bertahan sementara. Suatu saat, kala kamu sudah berada cukup tinggi, kamu memilih untuk pergi. Benang yang menjadi pengikat antara aku dan kamu, putus. Kamu terbang, semakin meninggi dan entah tujuanmu ke mana. Aku hanya bisa melihatmu terbang semakin menjauh. Aku tidak bisa berbuat apa-apa karena kamu terlalu sulit untuk kembali aku rengkuh. Kamu pergi, meninggalkanku yang selama ini sudah berusaha menerbangkanmu.
Aku hanya bisa bersedih, dan menangis. Tapi, aku sadar bahwa menangisimu -mungkin- tidak akan membuatmu kembali. Kamu sudah semakin terbang ke atas dan menjauh.
Kamu... apakah kamu paham maksudku?
Jika paham, semoga kamu bisa merasakan apa yang sekarang aku rasakan.
Tapi jika memang kamu tidak paham, tak apa. Aku akan berusaha merelakanmu pergi. Pun aku juga akan berusaha untuk mencari layang-layang yang baru, dan memastikan bahwa benangnya tidak mudah putus seperti kamu.
Untuk sekarang, aku masih menangisimu. Entah sampai kapan. Rasanya sakit sekali harus merelakanmu pergi setelah semua apa yang telah kita lalui.
Kamu baik-baik, ya. Aku tidak bisa lagi menjagamu, karena benang pengikat diantara kita sudah putus. Perjalananmu untuk semakin berada di atas masih panjang, jadi jangan lupa beristirahat kala kamu kelelahan.
Kamu baik-baik, ya. Aku tidak bisa lagi menjagamu, karena benang pengikat diantara kita sudah putus. Perjalananmu untuk semakin berada di atas masih panjang, jadi jangan lupa beristirahat kala kamu kelelahan.
Teruslah berjuang, layang-layangku.
Aku hanya bisa mengingatmu, dan sebisa mungkin akan aku temukan cara untuk merelakanmu.
Dari orang yang pernah melewati masa jatuh bangun bersamamu.