Inspired by someone who had a bad experience about love. He was betrayed by a girl he loved.
Tenanglah, semua sudah diatur. Segala hal yang ada di dunia ini tidak mungkin terjadi tanpa tolak ukur. Tuhan sedang menyiapkan yang terbaik untukmu, bersabarlah dan ikhlaskan apa yang membuatmu sakit. Jangan membentengi diri, karena hal itu hanya akan semakin menyakitkan hati.
Point of view: First Person, main character.
Hari ini mungkin hari tersakit yang aku alami semenjak aku mengenalmu. Undangan di tanganku, tertulis jelas namamu disana, Aira Cahyaning Putri, yang akan menikah dengan lelaki bernama Jati Prasetya. Bisa kamu jelaskan, siapa sosok lelaki ini?
Aira, kita sudah menjalin hubungan selama lebih dari tiga tahun. Semua teman-temanku, semua teman-temanmu bahkan tahu tentang hubungan kita. Bukan hanya itu, keluarga kita bahkan juga sudah saling mengetahui tentang hubungan kita. Lantas, tiba-tiba di meja kamarku ada sebuah undangan pernikahanmu dengan lelaki lain. Tolong, beri tahu aku. Siapa dia, bagaimana kalian bisa semantap ini untuk mewujudkan pernikahan. Apakah selama ini kamu berselingkuh di belakangku, ataukah sebaliknya, kamu menjadikanku sebagai selingkuhanmu?
Jika memang aku adalah selingkuhanmu, tidak mungkin kamu berani mengenalkanku dengan kerabat-kerabat dekatmu karena hal itu terlalu beresiko. Lantas, jika memang kamu berselingkuh di belakangku, mengapa lelaki itu bisa sebegitu mantapnya ingin menikahimu? Sejauh mana hubungan yang telah kalian bangun di belakangku? Tidakkah lelaki itu tahu bahwa kamu sudah memiliki kekasih? Tidakkah kamu menjelaskan kepada lelaki itu bahwa kamu sudah memiliki aku?
Aira, tidak banyak yang bisa aku jelaskan kepadamu tentang perasaanku sekarang ini. Semuanya terasa begitu sakit. Aku sadar aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi sekarang, kamu sudah resmi menjadi calon istri orang. Aku ingin marah? Tentu saja. Aku sangat ingin marah dengan kenyataan ini.
Tiga minggu yang lalu kita masih bermesraan khas anak pacaran, Aira. Kamu masih menggandeng tanganku mesra, tersenyum padaku dengan begitu manisnya. Lalu sekarang, kamu sudah menyebar undangan pernikahan dengan lelaki lain. Bukankah itu berarti pernikahanmu dipersiapkan saat kamu masih resmi menjadi kekasihku? Setelah hari itu, kamu meminta ijin kepadaku untuk tidak berkomunikasi selama beberapa hari. Kamu bilang, kamu ingin fokus melamar dan mendapatkan pekerjaan. Kamu bilang, kamu akan menghubungiku saat kamu sudah punya sebuah kabar menggembirakan. Aku menyetujuinya. Sejak hari itu, aku berusaha tidak menghubungimu supaya kamu bisa secepatnya mendapatkan pekerjaan. Ternyata, semua itu hanyalah alibi. Kamu sengaja menyuruhku tidak menghubungimu agar supaya kamu bisa mempersiapkan pesta pernikahanmu. Kamu benar-benar memberikanku kabar yang menggembirakan, Aira. Setidaknya kabar itu menggembirakan untukmu dan calon suamimu, tapi tidak untukku. Kabar darimu yang selalu aku tunggu-tunggu, ternyata menghancurkan perasaanku.
Jika aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu dan berbicara dari hati ke hati, sungguh aku ingin bertanya apa alasanmu. Sungguh aku ingin mengerti apa tujuanmu melakukan semua hal ini kepadaku. Katamu, kamu akan menemaniku hingga aku sukses nanti. Katamu, kamu akan membantuku menghadapi hidup yang keras ini. Katamu, kamu sangat menantikan kehadiranku beserta keluargaku untuk melamarmu. Semua kata-katamu, ternyata menipu. Kamu pembohong.
Entah sudah berapa orang berusaha menenangkanku dengan kondisi ini, tapi aku pikir usaha mereka percuma. Usaha mereka untuk meredam sakit hatiku, semua sia-sia. Sakit hatiku sudah tidak bisa aku gambarkan dengan ungkapan kata-kata.
Aira, aku berusaha menerima, namun kenyataannya tidak semudah yang aku sangka. Aku mencoba mengikhlaskanmu, namun hal itu semakin membuatku pilu. Aku masih berharap bahwa ini semua adalah mimpi. Kamu tidak benar-benar akan menikah dengan lelaki bernama Jati Prasetya, kan?
Mungkin inilah yang terbaik. Baik untukmu, baik untukku, dan juga baik untuk semua orang. Aku memang belum bisa mengikhlaskan, karena aku sudah mencintaimu terlalu dalam. Aku memang masih hancur karena fakta yang kamu berikan begitu membuatku terpukul. Aira, aku akan berusaha sebisa mungkin untuk tegar. Aku mencintaimu sejak awal kita berpacaran, tiga tahun yang lalu, hingga sekarang. Jika memang kenyataannya sepahit ini, mungkin justru inilah yang terbaik untuk suatu saat nanti. Aku memang selalu berharap menikahimu, menjadikanmu istri tercintaku, namun ternyata harapanku terlalu tinggi dan jauh. Kamu terlalu mudah menduakan dan mengkhianati perkataan.
Aku tidak tahu apakah aku sanggup datang ke pesta pernikahanmu atau tidak. Pesta itu terjadwal akan diselenggarakn dua minggu lagi. Aku masih punya waktu untuk menyiapkan hatiku untuk bertemu denganmu yang bersanding dengan lelaki lain. Aku akan berusaha datang, Aira. Aku akan menjadi salah satu saksi di hari bahagiamu.
Semoga ini memang yang terbaik untuk kita semua. Berbahagialah dengan lelaki bernama Jati Prasetya. Dia harus bisa mencintaimu sedalam aku mencintaimu, atau bahkan lebih dari itu. Aku akan baik-baik saja, Aira.
Dari hati yang telah engkau patahkan