Angin sore berhembus sejuk dari area sekitar rumahku. Sepoi angin serasa menyapa lembut telingaku, membisikkan kalimat-kalimat yang sebenarnya tak terlalu ingin untuk kuingat. Sosok seseorang lantas tergambar jelas dalam benakku, apa kabar dia sekarang ? masih ingatkah denganku disini ? sudahkah ada perempuan lain yang mengisi hari-harinya ? Ya, beragam pertanyaan yang seharusnya tak pantas untuk ku pertanyakan.
Dunia ini alibi, bagi seseorang yang pandai memanfaatkan keadaan orang lain. Dunia ini juga sangat kontras dengan apa yang kita harapkan di awal. Aku bingung, sekarang harus menempatkan diri dalam posisi yang bagaimana. Mencari ? Mengganti ? atau malah menanti ? Masih adakah orang yang tulus menyayangiku ? Kalapun masih ada, satu harapanku, semoga orang itu adalah ... kamu :)
Tak perlu yang muluk-muluk, disamping hadirnya keluargaku, aku juga membutuhkanmu dalam hidupku dan semua akan kembali normal. Aku tak akan memikirkan hal-hal aneh yang biasa terjadi saat otakku sibuk memikirkan keadaanmu, karena kita tak saling kontak. Hidupku akan kembali berwarna, karena kamu membawa lagi crayon terbaik yang pernah ada, dan berhasil melukiskan warna-warna yang indah dalam hidupku.
Aku rindu tatapan matamu yang teduh, yang terkadang membuatku merasa menjadi orang paling beruntung karena bisa melihat tatapan tersebut dalam sorotan matamu. Namun mengingat satu diantara beratus-ratus luka yang telah engkau torehkan, sesuatu yang manis terasa masam. Tak ada obat untuk menyembuhkannya, selain perubahanmu yang selalu ku tunggu.
Aku mungkin terlalu bodoh untuk mempercayai segala janji dan bualan busuk yang dulu sering berkoar dari mulutmu, aku juga tak terlalu pintar dalam menghapus jejak dirimu dari hatiku, bahkan setelah apa yang kamu lakukan kepadaku.
Terkadang aku ingin kamu merasakan bagaimana perihnya berada dalam posisi sepertiku. Bagaimana sakit batin yang kamu terima saat orang yang teramat kamu cinta melukaimu berulang kali. Bagaimana membosankannya menunggu orang yang kamu cinta berubah demi kamu. Bagaimana menyedihkannya melihat orang yang kamu cinta, orang yang melukaimu, dan orang yang sudah lama kamu tunggu tersebut malah dengan gampangnya meninggalkanmu demi orang lain. Menelantarkanmu tanpa permisi, membuangmu tanpa aba-aba, bak seseorang membuang permen karet bekas yang telah lama ia kunyah. Terbuang, jatuh, dan sakit.
Hitungan hari, hitungan minggu, bahkan hitungan bulan merupakan waktu yang tak cukup singkat untuk menanti seseorang berubah. Faktanya, aku telah mengalami hal tersebut -menunggu seseorang berubah- dalam kurun waktu bertahun-tahun. Resiko terluka lebih dalam makin terasa saat aku memberanikan diri untuk terjun dalam kehidupanmu terus-menerus, terlalu memperhatikanmu, terlalu mengingatmu, dan terlalu menginginkanmu kembali. Ah... rasanya sekarang aku ingin menangis, menangis karena menyesal, menyesal karena dulu dengan lantangnya aku melakukan hal tersebut.
Semua orang bisa berubah, hanya membutuhkan waktu dan adaptasi. Namun mengapa tak ada perubahan yang signifikan dari dirimu ? Terlalu bodohkah aku menantimu ? atau malah terlalu pintarkah kamu untuk membodohiku ?