Sabtu, 13 Oktober 2012

Kami Bersatu Dalam Sebuah Perjalanan Menuju Pulau Dewata


Study tour ke Bali bersama teman seperjuangan di sekolah ? Siapa yang tidak senang mendengar kabar itu, apalagi study tour kali ini merupakan yang pertama kalinya bagiku. Packing sudah kupersiapkan sejak tadi malam, dan hari ini perjalanan akan dimulai.
Aku membayangkan hal-hal apa saja yang akan terjadi baik saat perjalanan maupun setibanya di Pulau Dewata. Dalam anganku berkata, semuanya akan indah, tanpa ada sesuatu yang perlu untuk disesali.

Waktu terus berputar dan menandakan bahwa perjalanan harus segela dimulai, jelas aku memilih untuk duduk satu bangku dengan seorang yang selama ini telah menjadi sahabatku. Kami berdua memiliki banyak persamaan sehingga tidak sulit untuk dipersatukan. Kami memilih kursi nomor empat dari belakang, ini juga-lah yang menjadi kesamaanku dengannya, dalam bis, suka duduk di bagian belakang.
Kami menata wilayah kami supaya nyaman selama perjalanan berlangsung. Tak lupa camilan demi camilan yang kami bawa mulai dikeluarkan dan dibagi dengan teman-teman yang lain. Saling bertukar dan tak lupa diiringi dengan gosip ria.
Sejenak pandanganku melayang ke sudut bangku paling belakang, ah... orang itu lagi. Senyumnya tak pernah berubah, tatap matanya yang teduh tak pernah sirna. Segera kubuang pandangan itu, sebab jika sahabatku mengetahui, dia akan marah. Aku berusaha berkonsentrasi dengan apa yang sedang di obrolkan oleh teman-temanku, namun selalu buyar saat suara tawanya terbesit di telingaku. Hingga akhirnya ku putuskan untuk beranjak lagi ke kursiku, menyumpal telinga dengan earphone dan mulai mendengar lagu-lagu kesukaanku.
Setelah beberapa kali berhenti untuk sholat, makan, dan istirahat, kini perjalanan kembali dilanjutkan. Terhitung sudah kurang lebih 13 jam perjalanan kami tempuh. Nyaris segala aktivitas sudah mulai redup di dalam bis, lampu-lampu pun sudah mulai di padamkan dan sebagian siswa mulai terlelap. Kecuali aktivitas dari arah kursi paling belakang, mereka yang ada disana masih gaduh, kadang terdengar suara tawa, kadang pula terdengar semacam suara gunjingan. Aku menoleh ke arah kanan, kulihat sahabatku juga sudah terlelap.
Keinginanku untuk menoleh ke arah kursi pojok di belakang akhirnya tak dapat dibendung. Temanku disana yang mengetahui bahwa aku belum tidur menyuruhku untuk bergabung, rupanya mereka sedang bermain kartu. Kulangkahkan kakiku dengan ragu. Penyakit insomnia-ku ternyata tak hanya berlaku di rumah, tapi juga di dalam bis.
Entah sebuah kebetulan atau tidak, mereka semua memberiku tempat duduk di samping orang itu. Bimbang antara terus berdiri dengan resiko kaki kesemutan atau duduk dengan resiko jantung berdisko. Goyangan dari bis mulai terasa hingga memaksaku untuk duduk disampingnya, aku berusaha keras untuk tidak mempedulikan lonjakan-lonjakan yang muncul dari dalam dadaku.
“Nggak ikut main ?” Tanyanya tak berapa lama setelah aku duduk yang hanya kujawab dengan sebuah gelengan. Dalam hati, sebenarnya aku ingin ikut namun tak tahu caranya bagaimana. Dia sepertinya mengerti apa yang aku pikirkan, hingga akhirnya berkata “nggak tau caranya ya ? aku ajari.” Namun tetap kutolak dengan gelengan.
Aku mulai merasa bosan dan berniat untuk pergi dari sana, namun sebuah tangan mencengkeram lenganku. Aku kenal tangan ini, pikirku. Aku menoleh dan mendapatinya sedang menatapku. “mau kemana ?” tanyanya sambil melepaskan tangannya dari lenganku, sayup-sayup kudengar deheman dari teman-teman lain yang ada disana yang sukses membuat wajahku memerah. “balik ke depan.” Jawabku berusaha tenang. Aku berpikir, setelah kujawab dia tak akan lagi mempedulikanku namun apa yang aku pikirkan salah. Dia menarikku hingga aku kembali duduk di sampingnya. Kali ini kudengar dengan jelas teman-teman menyorakinya juga menyorakiku sambil berkata “cie balikan...” dalam hati aku mengamini ucapan itu.
Dari kejadian itulah, hubunganku dengannya mulai kembali dekat. Mulai saling berbicara setelah lama terdiam, membisu, dan saling mengacuhkan. Aku mulai berani untuk mengejeknya lagi, persis seperti yang aku lakukan saat dulu masih awal masuk sekolah.
Aku meronta, berusaha keras untuk pergi dari sana sambil sesekali memukul bahunya. Aku tak benar-benar ingin kembali ke kursiku, aku hanya ingin lebih dekat dengannya dengan cara yang tidak lazim seperti ini. Hingga akhirnya aku berhasil pergi dari sampingnya dan kembali ke depan. Sedikit sesal menggelayuti, kenapa aku harus pergi ? mungkin itulah satu-satunya kesempatan yang ku punya untuk dekat dengannya lagi.
Saat pikiranku berkecamuk rasa sesal, sorot lampu LED dari hpku menyala menandakan ada sms masuk. Sebuah pesan dari nomor yang sudah kuingat di luar kepala. Meskipun nomor tersebut tak ku simpan, namun aku menghafalnya. “masih terjaga-kah ?” bibirku menyunggingkan sebuah senyum saat membaca pesan tersebut. Lalu kuketikkan beberapa huruf untuk membalasnya. Sahabatku yang ternyata terbangun mengamatiku sambil memicingkan mata. Aku yang awalnya tak sadar di perhatikan seperti itu hanya bisa tersenyum ke arahnya.
Terhitung puluhan sms dari nomor yang sama masuk ke dalam inboxku, yang akhirnya berujung pada pesan berisikan “aku ingin duduk disampingmu lagi.” Aku juga ingin, dalam hati kujawab. Aku berusaha mencari posisi duduknya, ternyata dia tak lagi di pojokan belakang. Kini dia pindah ke kursi urutan nomor dua dari belakang, namun berlawanan arah dengan kursiku. Hingga akhirnya teman di sampingnya mendekatiku dan berkata “pindah dong, aku pengen duduk sini.” Lelaki itu sepertinya menyimpan rasa pada sahabatku. Aku menoleh ke arah kanan dan menyunggingkan sebuah senyum mengejek sebelum akhirnya beranjak dari kursi untuk mempersilakan cowok itu duduk.
“ambeien ya ?” ejeknya dan sukses membuatku kembali memukul bahunya. Setelah itu dia berdiri dan menyuruhku untuk duduk di dekat jendela. Kami bercengkerama, melupakan masalah yang dulu pernah membelit yang membuat kami pada akhirnya seperti tak saling mengenal. Malam ini, tembok penghalang itu sudah roboh, kami tak lagi mempedulikan masalah masa lalu. Menurutku “yang lalu biarlah berlalu” sementara menurutnya “masa lalu ada untuk dikenang”  presepsi itu yang terkadang membuatku memukul bahunya karena dia tak mau mengalah dengan pendapatnya yang berbeda jauh dengan pendapatku.
Berkali-kali kutahan tawa mendengar cerita mengenai adik bungsunya yang menurutku sangat menggemaskan. Lucu rasanya melihatnya kini bisa berbicara panjang lebar denganku lagi. Saat obrolan kami terhenti karena kehabisan bahan pembicaraan, aku menoleh ke luar jendela. Mengamati jalan-jalan yang sudah kulewati sejak dari sekolah sampai sekarang ini. Perjalanan yang amat panjang, sama seperti perjuanganku untuk mencintainya. Sama-sama jauh, namun tetap bertekad untuk ditempuh demi satu tujuan, yaitu kebahagiaan.
Jantungku nyeri, perasaanku kalut, rasa nyaman yang berlebihan saat kusadari dia meletakkan tangannya diatas tanganku kemudian menggenggamnya. Perasaan seperti inilah yang aku rindukan, sangat nyaman saat berada di dekatnya, apalagi dengan genggaman tangan dan tatapan matanya yang terkadang langsung membuatku meleleh.
Aku melihat kearahnya dan kearah tanganku secara bergantian. Dia hanya membalas bermacam pertanyaan di otakku dengan sesimpul senyum yang menentramkan. Aku diam, menikmati kerinduanku padanya yang kini mampu terbalas. Dinginnya AC di dalam bis terkalahkan dengan hangatnya genggaman yang beradu di tangan kami. Segala batas pemisah antara kami sudah tersapu erosi kenyamanan. Kami bersatu, dalam sebuah perjalanan menuju pulau dewata.
Lama terdiam, dia mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, “aku mencintaimu...” spontan aku menoleh ke arahnya, takut kalau saja ada yang salah dengan indra pendengaranku. Dia mengulang kalimatnya kembali dan membuatku mengembangkan senyum bahagia. Semoga ini benar-benar kamu yang mencintaiku, pintaku dalam hati. Aku menggunakan tangan kiriku untuk menulis kata AMIN di jendela. Sorotan lampu dari kendaraan yang lewat menjadi saksi pengikrarannya bahwa dia mencintaiku, ku harap bukan sekedar bualan belaka.

*BERSAMBUNG*