Study tour ke Bali bersama teman
seperjuangan di sekolah ? Siapa yang tidak senang mendengar kabar itu, apalagi
study tour kali ini merupakan yang pertama kalinya bagiku. Packing sudah
kupersiapkan sejak tadi malam, dan hari ini perjalanan akan dimulai.
Aku membayangkan hal-hal apa saja
yang akan terjadi baik saat perjalanan maupun setibanya di Pulau Dewata. Dalam
anganku berkata, semuanya akan indah, tanpa ada sesuatu yang perlu untuk
disesali.
Waktu terus berputar dan
menandakan bahwa perjalanan harus segela dimulai, jelas aku memilih untuk duduk
satu bangku dengan seorang yang selama ini telah menjadi sahabatku. Kami berdua
memiliki banyak persamaan sehingga tidak sulit untuk dipersatukan. Kami memilih
kursi nomor empat dari belakang, ini juga-lah yang menjadi kesamaanku
dengannya, dalam bis, suka duduk di bagian belakang.
Kami menata wilayah kami supaya
nyaman selama perjalanan berlangsung. Tak lupa camilan demi camilan yang kami
bawa mulai dikeluarkan dan dibagi dengan teman-teman yang lain. Saling bertukar
dan tak lupa diiringi dengan gosip ria.
Sejenak pandanganku melayang ke
sudut bangku paling belakang, ah... orang itu lagi. Senyumnya tak pernah
berubah, tatap matanya yang teduh tak pernah sirna. Segera kubuang pandangan
itu, sebab jika sahabatku mengetahui, dia akan marah. Aku berusaha
berkonsentrasi dengan apa yang sedang di obrolkan oleh teman-temanku, namun
selalu buyar saat suara tawanya terbesit di telingaku. Hingga akhirnya ku
putuskan untuk beranjak lagi ke kursiku, menyumpal telinga dengan earphone dan
mulai mendengar lagu-lagu kesukaanku.
Setelah beberapa kali berhenti
untuk sholat, makan, dan istirahat, kini perjalanan kembali dilanjutkan.
Terhitung sudah kurang lebih 13 jam perjalanan kami tempuh. Nyaris segala
aktivitas sudah mulai redup di dalam bis, lampu-lampu pun sudah mulai di
padamkan dan sebagian siswa mulai terlelap. Kecuali aktivitas dari arah kursi
paling belakang, mereka yang ada disana masih gaduh, kadang terdengar suara tawa,
kadang pula terdengar semacam suara gunjingan. Aku menoleh ke arah kanan,
kulihat sahabatku juga sudah terlelap.
Keinginanku untuk menoleh ke arah
kursi pojok di belakang akhirnya tak dapat dibendung. Temanku disana yang
mengetahui bahwa aku belum tidur menyuruhku untuk bergabung, rupanya mereka
sedang bermain kartu. Kulangkahkan kakiku dengan ragu. Penyakit insomnia-ku
ternyata tak hanya berlaku di rumah, tapi juga di dalam bis.
Entah sebuah kebetulan atau
tidak, mereka semua memberiku tempat duduk di samping orang itu. Bimbang antara
terus berdiri dengan resiko kaki kesemutan atau duduk dengan resiko jantung
berdisko. Goyangan dari bis mulai terasa hingga memaksaku untuk duduk
disampingnya, aku berusaha keras untuk tidak mempedulikan lonjakan-lonjakan
yang muncul dari dalam dadaku.
“Nggak ikut main ?” Tanyanya tak
berapa lama setelah aku duduk yang hanya kujawab dengan sebuah gelengan. Dalam
hati, sebenarnya aku ingin ikut namun tak tahu caranya bagaimana. Dia sepertinya
mengerti apa yang aku pikirkan, hingga akhirnya berkata “nggak tau caranya ya ?
aku ajari.” Namun tetap kutolak dengan gelengan.
Aku mulai merasa bosan dan
berniat untuk pergi dari sana, namun sebuah tangan mencengkeram lenganku. Aku
kenal tangan ini, pikirku. Aku menoleh dan mendapatinya sedang menatapku. “mau
kemana ?” tanyanya sambil melepaskan tangannya dari lenganku, sayup-sayup
kudengar deheman dari teman-teman lain yang ada disana yang sukses membuat
wajahku memerah. “balik ke depan.” Jawabku berusaha tenang. Aku berpikir, setelah
kujawab dia tak akan lagi mempedulikanku namun apa yang aku pikirkan salah. Dia
menarikku hingga aku kembali duduk di sampingnya. Kali ini kudengar dengan
jelas teman-teman menyorakinya juga menyorakiku sambil berkata “cie balikan...”
dalam hati aku mengamini ucapan itu.
Dari kejadian itulah, hubunganku
dengannya mulai kembali dekat. Mulai saling berbicara setelah lama terdiam,
membisu, dan saling mengacuhkan. Aku mulai berani untuk mengejeknya lagi,
persis seperti yang aku lakukan saat dulu masih awal masuk sekolah.
Aku meronta, berusaha keras untuk
pergi dari sana sambil sesekali memukul bahunya. Aku tak benar-benar ingin
kembali ke kursiku, aku hanya ingin lebih dekat dengannya dengan cara yang
tidak lazim seperti ini. Hingga akhirnya aku berhasil pergi dari sampingnya dan
kembali ke depan. Sedikit sesal menggelayuti, kenapa aku harus pergi ? mungkin
itulah satu-satunya kesempatan yang ku punya untuk dekat dengannya lagi.
Saat pikiranku berkecamuk rasa
sesal, sorot lampu LED dari hpku menyala menandakan ada sms masuk. Sebuah pesan
dari nomor yang sudah kuingat di luar kepala. Meskipun nomor tersebut tak ku
simpan, namun aku menghafalnya. “masih terjaga-kah ?” bibirku menyunggingkan
sebuah senyum saat membaca pesan tersebut. Lalu kuketikkan beberapa huruf untuk
membalasnya. Sahabatku yang ternyata terbangun mengamatiku sambil memicingkan
mata. Aku yang awalnya tak sadar di perhatikan seperti itu hanya bisa tersenyum
ke arahnya.
Terhitung puluhan sms dari nomor
yang sama masuk ke dalam inboxku, yang akhirnya berujung pada pesan berisikan
“aku ingin duduk disampingmu lagi.” Aku juga ingin, dalam hati kujawab. Aku
berusaha mencari posisi duduknya, ternyata dia tak lagi di pojokan belakang.
Kini dia pindah ke kursi urutan nomor dua dari belakang, namun berlawanan arah
dengan kursiku. Hingga akhirnya teman di sampingnya mendekatiku dan berkata
“pindah dong, aku pengen duduk sini.” Lelaki itu sepertinya menyimpan rasa pada
sahabatku. Aku menoleh ke arah kanan dan menyunggingkan sebuah senyum mengejek
sebelum akhirnya beranjak dari kursi untuk mempersilakan cowok itu duduk.
“ambeien ya ?” ejeknya dan sukses
membuatku kembali memukul bahunya. Setelah itu dia berdiri dan menyuruhku untuk
duduk di dekat jendela. Kami bercengkerama, melupakan masalah yang dulu pernah
membelit yang membuat kami pada akhirnya seperti tak saling mengenal. Malam
ini, tembok penghalang itu sudah roboh, kami tak lagi mempedulikan masalah masa
lalu. Menurutku “yang lalu biarlah berlalu” sementara menurutnya “masa lalu ada
untuk dikenang” presepsi itu yang
terkadang membuatku memukul bahunya karena dia tak mau mengalah dengan
pendapatnya yang berbeda jauh dengan pendapatku.
Berkali-kali kutahan tawa mendengar
cerita mengenai adik bungsunya yang menurutku sangat menggemaskan. Lucu rasanya
melihatnya kini bisa berbicara panjang lebar denganku lagi. Saat obrolan kami
terhenti karena kehabisan bahan pembicaraan, aku menoleh ke luar jendela.
Mengamati jalan-jalan yang sudah kulewati sejak dari sekolah sampai sekarang
ini. Perjalanan yang amat panjang, sama seperti perjuanganku untuk
mencintainya. Sama-sama jauh, namun tetap bertekad untuk ditempuh demi satu
tujuan, yaitu kebahagiaan.
Jantungku nyeri, perasaanku
kalut, rasa nyaman yang berlebihan saat kusadari dia meletakkan tangannya
diatas tanganku kemudian menggenggamnya. Perasaan seperti inilah yang aku
rindukan, sangat nyaman saat berada di dekatnya, apalagi dengan genggaman tangan
dan tatapan matanya yang terkadang langsung membuatku meleleh.
Aku melihat kearahnya dan kearah
tanganku secara bergantian. Dia hanya membalas bermacam pertanyaan di otakku
dengan sesimpul senyum yang menentramkan. Aku diam, menikmati kerinduanku
padanya yang kini mampu terbalas. Dinginnya AC di dalam bis terkalahkan dengan
hangatnya genggaman yang beradu di tangan kami. Segala batas pemisah antara
kami sudah tersapu erosi kenyamanan. Kami bersatu, dalam sebuah perjalanan
menuju pulau dewata.
Lama terdiam, dia mendekatkan
wajahnya ke telingaku dan berbisik, “aku mencintaimu...” spontan aku menoleh ke
arahnya, takut kalau saja ada yang salah dengan indra pendengaranku. Dia
mengulang kalimatnya kembali dan membuatku mengembangkan senyum bahagia. Semoga
ini benar-benar kamu yang mencintaiku, pintaku dalam hati. Aku menggunakan
tangan kiriku untuk menulis kata AMIN di jendela. Sorotan lampu dari kendaraan
yang lewat menjadi saksi pengikrarannya bahwa dia mencintaiku, ku harap bukan
sekedar bualan belaka.
*BERSAMBUNG*