Sabtu, 20 Oktober 2012

Kami Bersatu Dalam Sebuah Perjalanan Menuju Pulau Dewata II


Entah berapa menit, mataku sempat terpejam sebelum akhirnya kini harus terbuka kembali. Aku mengamati jam di tanganku, pukul 01.18. itu berarti aku hanya sempat tertidur 10 menit selama perjalanan. Pusing tentu sangat ku rasakan, namun mendadak lenyap saat mengingat dia yang masih ada di sampingku.
Kami sempat berpisah, tepatnya saat menyeberang pulau di Gilimanuk. Bukan hanya berpisah secara lahir, namun juga batin. Kala itu, dia bersatu, dengan kekasihnya. Seakan saat itu dia mendepakku jauh-jauh dari hidupnya dan tak ingin mengenalku. Aku berusaha menahan siksa batin saat tak sengaja mata kita bertemu, namun dia seolah tak peduli. Tak ada senyum yang tersungging. Nyeri, aku ingin menumpahkan air mataku saat itu juga.
Selesai penyeberangan, kami semua kembali ke dalam bis. Lelaki itu masih ingin duduk berdua dengan sahabatku, yang akhirnya memaksaku untuk duduk dengannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu ingin duduk disampingnya lagi setelah pengacuhan yang dia berikan padaku. Namun apa daya, sekhianat apapun dia, aku selalu bisa memberikan kata “tidak apa-apa” untuknya. Beberapa menit setelah perjalanan di lanjutkan dengan bis, dia kembali memberikan senyumnya yang manis untukku. Hanya untukku, bukan kekasihnya. Tentu saja, mereka beda bis. Jadi, mungkin aku hanya di jadikan pelampiasan selama dia tak bersama kekasihnya ? ah tidak mungkin. Aku berusaha keras membuang pikiran-pikiran negative itu.
Aku mengamatinya dari samping, dia terlelap dengan nyenyak. Mungkin dia merasa lelah, kami berdua belum tidur sama sekali selama perjalanan. Tak ada sesuatu yang bisa dikerjakan, aku mengambil HP dari saku. Selama perjalanan, tepatnya selama aku berada di dekatnya hingga sekarang, HPku belum terjamah sama sekali. Ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab. Nyaris semua dari keluargaku. Aku membalas semua pesan yang masuk dengan beberapa kata.
“udah bangun?” tanyanya yang ternyata mengamatiku. Dia menatapku, mata kami bertemu. Jantungku berdegup dua kali lebih kencang. Kenapa kamu harus punya tatapan seteduh itu ? rengekku dalam hati. Aku membalasnya dengan sebuah anggukan kecil dan segera mengalihkan pandanganku dari matanya. Mungkin dia mulai menyadari perubahan sikapku setelah penyeberangan. Dia selalu berusaha mengajakku untuk bercerita, namun bahan obrolan yang ia ceritakan tak berujung pada pangkalnya. Berhenti di tengah jalan karena aku tak memperhatikan apa yang sedang dia lontarkan.
Setelah penyeberangan hingga sekarang ini, ceritanya tak sedikitpun menyinggung soal kekasihnya. Bahkan dia sama sekali tak mengucapkan kata “maaf” atas pengacuhannya padaku di dalam kapal. Mungkin aku terlalu egois, harusnya aku menyadari situasi. Dia berada di samping kekasihnya, mustahil dia menganggap keberadaan orang lain. Aku terlalu memiliki daya khayal yang tinggi. Aku ingin memamerkan kemesraan kami dihadapan kekasihnya. Itu sangat konyol. Yang ada, merekalah pemamer kemesraan itu padaku.
Harusnya sejak dulu, sejak kami berpisah, sesegera mungkin aku membuang dan menutup perasaanku padanya. Namun semua itu terasa sulit kujalankan ditambah dengan kenangan-kenangan yang ia berikan padaku. Kali ini, dia menambah lagi daftar kenangan yang ku punya khusus untuknya. Dia kembali memberiku sebuah harapan, harapan yang sama dengan yang ia berikan kepada kekasihnya. Harapan tentang masa depan, harapan tentang aku dan dia yang bersatu menjadi kami.
“enak ya jadi kamu …” entah mendapat instruksi dari mana, kata-kata itu keluar dengan sendirinya. Aku tak berusaha menarik ucapanku, aku ingin dia tahu apa yang aku rasakan saat bersamanya. Dia memandangku -mungkin- dengan beragam pertanyaan.
“maksud kamu?” tanyanya dengan tetap memandangku. Aku tak mempedulikan pandangannya yang mengarah langsung ke mataku. Tatapanku kosong, jiwaku seperti melayang. Tak berada tepat pada jasmaniku. “kamu kenapa?” tanyanya lagi setelah sekian lama aku terdiam. Segera mungkin aku mengumpukan jiwa-jiwaku yang beterbangan ke masa lalu. Aku menoleh ke kanan, tepatnya ke arah dimana dia berada. Kukembangkan sedikit senyum diiringi helaan nafas yang lumayan panjang.
“enak ya jadi kamu. Nggak perlu banyak tingkah untuk membuat seseorang jatuh cinta.” Jawabku jujur. Dia mengernyitkan alis, pertanda bingung. Tak ingin kuperjelas maksud kalimatku itu.
Tak berapa lama kemudian, aku dan semua rombongan sampai di hotel tempat dimana kami akan menginap selama berada di Bali. Dia berdiri, mempersilakanku untuk keluar. Aku tak terlalu menganggap keberadaannya saat itu. Aku tahu, selama di Bali dia akan banyak bertemu dengan kekasihnya. Itu berarti semakin banyak pula dia akan mengacuhkanku. Aku harus bersiap dari sekarang. Harus mencari cara untuk menghindar saat tak sengaja bertemu dengannya yang sedang menggandeng kekasihnya.
Kami semua turun dari bis. Sahabatku menungguku di dekat pintu. “ehem, balikan …” ejeknya yang tak ku pedulikan. Aku dan sahabatku menunggu teman-teman yang lain. Kami tak banyak bicara saat itu karena moodku yang cukup buruk. Saat menunggu antrian mendapat nomor hotel, aku dan temanku duduk di sebuah taman. Aku menekuk lututku dan membenamkan wajah diantaranya. Tak berapa lama, temanku yang mengambil kunci kamar hotel kembali. Kami berempat beranjak dari taman dan berjalan menuju kamar kami berada. Setelah dibukanya pintu kamar hotel, kami serentak merebahkan tubuh di ranjang. Segala rasa lelah-pun berangsur lenyap.

*BERSAMBUNG*