Entah berapa menit, mataku sempat
terpejam sebelum akhirnya kini harus terbuka kembali. Aku mengamati jam di
tanganku, pukul 01.18. itu berarti aku hanya sempat tertidur 10 menit selama
perjalanan. Pusing tentu sangat ku rasakan, namun mendadak lenyap saat
mengingat dia yang masih ada di sampingku.
Kami sempat berpisah, tepatnya saat
menyeberang pulau di Gilimanuk. Bukan hanya berpisah secara lahir, namun juga
batin. Kala itu, dia bersatu, dengan kekasihnya. Seakan saat itu dia mendepakku
jauh-jauh dari hidupnya dan tak ingin mengenalku. Aku berusaha menahan siksa
batin saat tak sengaja mata kita bertemu, namun dia seolah tak peduli. Tak ada
senyum yang tersungging. Nyeri, aku ingin menumpahkan air mataku saat itu juga.
Selesai penyeberangan, kami semua
kembali ke dalam bis. Lelaki itu masih ingin duduk berdua dengan sahabatku,
yang akhirnya memaksaku untuk duduk dengannya lagi. Sebenarnya aku tak terlalu
ingin duduk disampingnya lagi setelah pengacuhan yang dia berikan padaku. Namun
apa daya, sekhianat apapun dia, aku selalu bisa memberikan kata “tidak apa-apa”
untuknya. Beberapa menit setelah perjalanan di lanjutkan dengan bis, dia
kembali memberikan senyumnya yang manis untukku. Hanya untukku, bukan
kekasihnya. Tentu saja, mereka beda bis. Jadi, mungkin aku hanya di jadikan
pelampiasan selama dia tak bersama kekasihnya ? ah tidak mungkin. Aku berusaha
keras membuang pikiran-pikiran negative itu.
Aku mengamatinya dari samping,
dia terlelap dengan nyenyak. Mungkin dia merasa lelah, kami berdua belum tidur sama
sekali selama perjalanan. Tak ada sesuatu yang bisa dikerjakan, aku mengambil
HP dari saku. Selama perjalanan, tepatnya selama aku berada di dekatnya hingga
sekarang, HPku belum terjamah sama sekali. Ada beberapa pesan dan panggilan tak
terjawab. Nyaris semua dari keluargaku. Aku membalas semua pesan yang masuk
dengan beberapa kata.
“udah bangun?” tanyanya yang
ternyata mengamatiku. Dia menatapku, mata kami bertemu. Jantungku berdegup dua
kali lebih kencang. Kenapa kamu harus punya tatapan seteduh itu ? rengekku
dalam hati. Aku membalasnya dengan sebuah anggukan kecil dan segera mengalihkan
pandanganku dari matanya. Mungkin dia mulai menyadari perubahan sikapku setelah
penyeberangan. Dia selalu berusaha mengajakku untuk bercerita, namun bahan
obrolan yang ia ceritakan tak berujung pada pangkalnya. Berhenti di tengah
jalan karena aku tak memperhatikan apa yang sedang dia lontarkan.
Setelah penyeberangan hingga
sekarang ini, ceritanya tak sedikitpun menyinggung soal kekasihnya. Bahkan dia
sama sekali tak mengucapkan kata “maaf” atas pengacuhannya padaku di dalam
kapal. Mungkin aku terlalu egois, harusnya aku menyadari situasi. Dia berada di
samping kekasihnya, mustahil dia menganggap keberadaan orang lain. Aku terlalu
memiliki daya khayal yang tinggi. Aku ingin memamerkan kemesraan kami dihadapan
kekasihnya. Itu sangat konyol. Yang ada, merekalah pemamer kemesraan itu
padaku.
Harusnya sejak dulu, sejak kami
berpisah, sesegera mungkin aku membuang dan menutup perasaanku padanya. Namun
semua itu terasa sulit kujalankan ditambah dengan kenangan-kenangan yang ia
berikan padaku. Kali ini, dia menambah lagi daftar kenangan yang ku punya
khusus untuknya. Dia kembali memberiku sebuah harapan, harapan yang sama dengan
yang ia berikan kepada kekasihnya. Harapan tentang masa depan, harapan tentang
aku dan dia yang bersatu menjadi kami.
“enak ya jadi kamu …” entah
mendapat instruksi dari mana, kata-kata itu keluar dengan sendirinya. Aku tak
berusaha menarik ucapanku, aku ingin dia tahu apa yang aku rasakan saat
bersamanya. Dia memandangku -mungkin- dengan beragam pertanyaan.
“maksud kamu?” tanyanya dengan
tetap memandangku. Aku tak mempedulikan pandangannya yang mengarah langsung ke
mataku. Tatapanku kosong, jiwaku seperti melayang. Tak berada tepat pada
jasmaniku. “kamu kenapa?” tanyanya lagi setelah sekian lama aku terdiam. Segera
mungkin aku mengumpukan jiwa-jiwaku yang beterbangan ke masa lalu. Aku menoleh
ke kanan, tepatnya ke arah dimana dia berada. Kukembangkan sedikit senyum
diiringi helaan nafas yang lumayan panjang.
“enak ya jadi kamu. Nggak perlu
banyak tingkah untuk membuat seseorang jatuh cinta.” Jawabku jujur. Dia
mengernyitkan alis, pertanda bingung. Tak ingin kuperjelas maksud kalimatku
itu.
Tak berapa lama kemudian, aku dan
semua rombongan sampai di hotel tempat dimana kami akan menginap selama berada
di Bali. Dia berdiri, mempersilakanku untuk keluar. Aku tak terlalu menganggap
keberadaannya saat itu. Aku tahu, selama di Bali dia akan banyak bertemu dengan
kekasihnya. Itu berarti semakin banyak pula dia akan mengacuhkanku. Aku harus
bersiap dari sekarang. Harus mencari cara untuk menghindar saat tak sengaja
bertemu dengannya yang sedang menggandeng kekasihnya.
Kami semua turun dari bis.
Sahabatku menungguku di dekat pintu. “ehem, balikan …” ejeknya yang tak ku
pedulikan. Aku dan sahabatku menunggu teman-teman yang lain. Kami tak banyak
bicara saat itu karena moodku yang cukup buruk. Saat menunggu antrian mendapat
nomor hotel, aku dan temanku duduk di sebuah taman. Aku menekuk lututku dan
membenamkan wajah diantaranya. Tak berapa lama, temanku yang mengambil kunci
kamar hotel kembali. Kami berempat beranjak dari taman dan berjalan menuju
kamar kami berada. Setelah dibukanya pintu kamar hotel, kami serentak
merebahkan tubuh di ranjang. Segala rasa lelah-pun berangsur lenyap.
*BERSAMBUNG*