Selasa, 30 Oktober 2012

Kami Bersatu Dalam Sebuah Perjalanan Menuju Pulau Dewata III


Mataku pedih melihat pemandangan yang berada tak begitu jauh di depanku. Air mata yang sedari tadi sudah mengantri untuk keluar, akhirnya tak dapat ku bendung. Setetes, dua tetes, hingga akhirnya makin deras dan makin deras lagi.

Aku membuang pandanganku ke luar jendela, segalanya terasa pahit. Sangat pahit, saat beberapa menit yang lalu, dia masuk ke dalam bis bersama kekasihnya. Perjalanan pulang yang aku harap bisa seindah saat perjalanan menuju Bali harus ku kubur dengan penuh duka.
Tak ada sesuatu hal istimewa yang dapat ku ceritakan saat berada di Bali. Penuh rasa sesak karena dia selalu muncul di depanku bersama dengan kekasihnya. Kini, saat perjalanan kembali ke sekolah-pun, aku harus menatap mereka bermesraan di dalam bis.
Aku duduk sendirian di kursi nomor dua dari belakang. Sahabatku masih satu bangku dengan lelaki itu. Sebenarnya dia ingin menemaniku, namun ku tolak dan ku suruh dia untuk kembali ke kursinya. Satu per satu temanku menghampiri, menawarkan diri untuk duduk di sebelahku. Namun tetap kuberi jawaban yang sama. Aku menyuruh mereka untuk duduk di kursinya masing-masing dan meyakinkan bahwa kondisiku baik-baik saja.. Sementara dia dan kekasihnya duduk di depan kursi sahabatku. Tak sekali dua kali aku mendengar tawa mereka berdua melintas di telingaku.
Bis berhenti di sebuah pombensin. Satu per satu siswa turun dan menuju toilet. Aku tak bergerak dari tempatku, tatapanku tetap melayang ke luar jedela. Mengamati kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang dengan cepatnya. Mengaitkan kendaraan tersebut dengan dia, yang sebegitu mudahnya berlalu dariku.
“kamu baik-baik saja?” sebuah suara dari orang yang amat ku sayang terdengar di sebelahku. Aku tak menoleh, tetap mengarahkan pandanganku ke luar jendela.
“aku minta maaf…” ucapnya lagi, aku tetap diam. Tak menimpalinya bahkan dengan sedikit gerak-pun.
Satu detik …
Dua detik …
Keheningan tercipta, aku menoleh ke arahnya sejenak, dia memandangku, namun segera ku tepis padangannya tersebut. Ku lihat kursi tempat dia dan kekasihnya duduk. Pantas saja dia berani kemari, pasti kekasihnya pergi ke toilet. Kenapa nggak dia antar supaya hatiku makin sakit.
Aku mengembalikan posisi dudukku seperti semula, menatap ke luar jendela. Tak menghiraukannya, lebih tepatnya berusaha tak menganggapnya ada. Jujur, aku ingin memeluknya, sekedar untuk meredam keresahanku, di sisi lain aku juga ingin menamparnya supaya dia menyadari bahwa ada perasaan yang semestinya ia jaga.
“aku pamit ke depan dulu. Sekali lagi aku minta maaf.” Ucapnya dan setelah itu lenyap dari sampingku. Baru berapa langkah dia beranjak, mataku mengikuti tubuhnya. Aku ingin berteriak, berteriak untuk mencegahnya pergi dan meminta agar dia tetap di sampingku. Tak mungkin bisa, untuk menjawab pertanyaannya saja lidahku kelu, apalagi berteriak dengan bis yang mulai penuh dengan siswa seperti ini. Tanpa sadar, dia menoleh ke arahku, mata kami bertemu. Nanar ! air mataku makin mengalir.
Aku berusaha memejamkan mata, namun selalu gagal. Yang ada, tiap aku berusaha tidur, bayangannya lah yang selalu melintas. Terkadang dia menoleh ke belakang, tepatnya ke arahku. Entah apa maksudnya, mungkin dia ingin agar kemesraannya dengan kekasihnya ku perhatikan. Untuk apa ? tak perlu banyak tindak untuk membuatku sakit hati. Dengan sebuah pengacuhan saja, rasa sakit sudah bisa menjalar dalam tubuh.
LED hp-ku menyala dengan terang, lagi-lagi sebuah pesan dari nomor itu. Aku membukanya tanpa rasa.
“jangan menitihkan air mata lagi, tersenyumlah. Kamu terlihat lebih, lebih, lebih cantik jika melakukan itu J” aku membaca pesan tersebut dengan geram. Apa urusannya, lagian bagaimana aku bisa tersenyum jika dia terus memaksaku untuk menangis.
“PENGECUT !!!” ku balas pesannya yang sok manis itu dengan sebuah makian. Saat pesan itu dibaca, aku merasa dia menoleh ke belakang.
“apa maksudmu ? aku sudah minta maaf.” Emosiku makin memuncak. Dia pikir dengan sebuah kata maaf segalanya sudah berakhir. Dia kira dengan sebuah kata maaf, luka yang dia torehkan ke orang lain akan sembuh begitu saja. Tak ingin emosiku terpancing lagi, aku mengubah jaringan hpku menjadi offline. Aku mengambil bantal love dari tas dan menaruhnya di antara sandaran kursi dengan kepalaku. Berharap saat ini juga bisa terlelap tanpa ada sekelebat bayangannya.
“hei …” suara itu membangunkanku saat tidurku sudah mulai nyenyak. Perlahan, ku buka mata dengan berat. Aku sedikit bingung, ini masih dalam dunia mimpi atau bayanganku yang memang kabur. Sosoknya ada di depanku. Orang yang tadi membangunkanku adalah dia. Aku mengamatinya dengan pasti, meyakinkan diri bahwa ini bukan sekedar ilusi.
“maaf membangunkanmu.” Ucapnya setelah aku benar-benar sadar bahwa sosok itu benar dirinya.
“aku ingin minta maaf.” Lanjutnya lagi. Maaf, maaf, maaf… tak adakah sesuatu yang lain yang bisa dia lakukan untukku selain minta maaf.
“pacarmu kemana ?” tanyaku mengalihkan pembicaraan. Berani sekali dia pergi ke kursiku, padahal jelas tadi dia bersama kekasihnya. Kecuali kalau tiba-tiba kekasihnya melompat keluar jendela, baru aku memaklumi kenapa dia berani mendatangiku.
“dia sedang tertidur, lelap.” Balasnya. Oh… lagi tidur. Beraninya Cuma di belakang. Gerutuku tak jelas.
Aku menatap jam di tanganku, sebenarnya jam ini adalah miliknya. Aku meminjamnya waktu perjalanan menuju Bali beberapa hari yang lalu dan sampai sekarang lupa ku kembalikan. Aku melepas jam tersebut dan menaruh di tangannya. Saat itu dia malah menggenggam tanganku. Ah, sial ! lagi-lagi perasaan seperti ini muncul. Aku diam menikmati getaran yang makin lama makin terasa saat dia menyandarkan kepalaku di bahunya.
“tidurlah. Aku akan menjagamu.” Lagi-lagi aku melakukan kesalahan fatal. Kembali terbawa pada rasa nyaman itu. Aku mungkin bisa menolaknya secara perlakuan, namun dari batinku sendiri, tak dapat ku pungkiri bahwa aku menginginkan rasa nyaman saat di dekatnya itu terus ada.
Dia mengelus rambutku dengan lembut sambil sesekali menyenandungkan lagu kesukaan kami berdua. Segala emosi yang tadi sempat menyulut sekarang laksana tersiram guyuran air hujan yang deras, padam seketika. Mataku semakin sayu walau sebenarnya ingin tetap menikmati kebersamaanku dengannya. Namun apa arti keinginan jika mata tidak mendukung …

*BERSAMBUNG*