Terlalu berharap namun pada
akhirnya tak dapat terwujud. Bercita-cita tinggi namun terhentak jatuh begitu
saja. Betapa malang orang tersebut. Tunggu ! siapa yang aku bicarakan diam-diam
dalam hati ini? Siapa yang aku tertawakan ? aku mengasihani diriku sendiri.
Secara tidak langsung aku ingin mencaci atas apa yang telah aku lakukan
untuknya. Apa yang bisa ku perbuat ? menghapusnya dari kehidupanku ? bertingkah
seolah aku tak memendam rasa padanya lagi? andai itu bisa, andai itu mudah,
sudah sejak dulu ku lakukan. Sebodoh itukah otakku ? setidak mampunya-kah
otakku berpikir secara jernih ?
Tetes air mata kembali bergulir,
perlahan namun semakin menjadi. Tidur nyenyak semalam terasa ingin ku ulang
lagi. Tidur di bahu seseorang yang amat ku sayang dengan belaian tangannya yang
nyaman dan menentramkan. Tidur dengan iringan lagu yang amat ku suka serta di
nyanyikan oleh seorang yang ku cinta. Semua itu terasa mimpi saat terbangun dia
tak lagi ada di sampingku. Sepucuk surat ku temui di kursi samping.
“maaf nggak bisa nunggu kamu
sampai terbangun. Semoga mimpimu tadi malam indah, seindah senyum di wajahmu J jangan menangis, ku
mohon. Aku tak tega harus melihatmu menitihkan air mata lagi.”
Entah perasaan apa yang kini
berkecamuk dalam benakku. Mungkin amarah lebih banyak bersarang saat ini. Aku
ingin menghampirinya yang sedang bersenda gurau dengan kekasihnya. Memakinya,
memarahinya, mengumpatnya, meluapkan segala emosi yang ada. Tapi keinginan
itu tak pernah dan tak akan pernah ku wujudkan. Aku tak ingin merusak hubungan
mereka berdua. Lagipula, siapa aku ? hanya serpihan debu dari masa lalunya yang
tidak berarti. Dia sudah bahagia dengan kekasihnya, jauh lebih bahagia daripada
saat ia bersamaku.
***
Bahkan dia tak menungguiku saat
bis sudah sampai di sekolah. Dia langsung pergi, tanpa pamit, tanpa
sesungging-pun senyum untukku. Sakit. Aku ingin sekali-kali dia berada dalam
posisiku. Melihat orang yang dia cinta tertawa suka bersama orang lain. Apakah
dia akan tahan dengan kondisi seperti itu ? hitungan hari, hitungan minggu,
bahkan hitungan bulan bukanlah waktu yang sepadan dengan penantianku selama
ini. Dua tahun, tepatnya dua tahun 35 hari aku mulai menyimpan rasa padanya.
Rasa cinta, dan kasih sayang. Rasa yang sampai sekarang belum mampu ku tepis.
“matamu bengkak ? tidakkah kau
tidur selama di Bali ?” tanya ayah, mengamatiku dengan seksama. Mungkin dia
ingin memastikan bagaimana kondisiku selama 5 hari tak berada dalam pengawasannya.
Bagaimana mataku tidak bengkak ? nyaris setiap saat aku dipaksa menitihkan segelintir
air mata olehnya juga untuknya. Hanya kujawab pertanyaan itu dengan sesimpul
senyum, senyum yang ku paksakan.
Segera aku masuk ke kamar setelah
ku letakkan segala macam oleh-oleh yang ada. Ku buka tas ranselku, mengambil
sebuah benda yang menurutku sangat berarti. Sebuah gantungan kunci angsa,
berwarna dominan putih. Bayangan sosoknya lantas samar-samar tergambar. Gantungan
inilah satu-satunya saksi bisu yang bisa ku bawa sampai rumah atas apa yang
telah ia lakukan kepadaku selama di Bali. Tawa, tangis, sendu, semua terluapkan
dan hanya gantungan inilah yang menjadi saksi tindakan itu semua.
Aku mengamati ponselku yang
layarnya beberapa kali berkelip, pertanda ada panggilan masuk. Ku rasa aku tahu
siapa yang menelfonku. Tanpa ada niat sedikitpun, aku tetap menelantarkan
ponsel tersebut diatas meja dengan nada senyap.
Andai kamu tahu siapa orang yang
selama bertahun-tahun ini selalu menggelayuti pikiranku, akankah kamu tetap
setega ini padaku. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tanpa harus aku
beritahu. Aku terluka, melihat kelakuanmu selama ini, tidakkah kau sadar itu ?
air mata kembali bergulir dari mataku. Berwisata ke Bali, yang awalnya ku
anggap akan menyenangkan justru membuahkan nyeri hati yang tak kunjung
berhenti. Luka lama yang selama ini selalu ku sembunyikan, sekarang makin
tergores. Luka itu, kini makin menjalar sakitnya.
Guling-guling basah oleh air
mataku, tak peduli seberapa sembab mataku sekarang. Yang jelas, menangis adalah
satu-satunya tindakan yang dapat ku lakukan kali ini. Beruntung orangtuaku
langsung pergi setelah menjemputku tadi, jadi tak ada yang perlu ku takutkan
jikalau ingin menangis. Kakakku juga sedang kuliah, hingga aku tak harus putar
otak untuk mencari tempat.
“kamu menangis lagi ?” suara
itu... mataku terbelalak begitu mendengar kalimat tersebut terdengar, suara
yang sangat familiar oleh telingaku. Aku tak berusaha mengusap air mata yang
mengalir, mungkin aku hanya salah pendengaran. “ngapain kamu disini ?” dia
menatapku, lekat. Mata kami, saling memancarkan cahaya. Ada binar keprihatinan
dari sorot matanya yang dapat ku tangkap. Mata itu, aku merindukannya. Aku rindu
tatapan kasih sayang yang dulu biasa dia berikan padaku. Kami terdiam, lama,
hingga akhirnya sahabatku masuk ke dalam kamarku.
“uh, maaf mengganggu. Tadi aku
yang nyuruh dia kemari. Aku rasa keadaanmu sedang tidak baik, jadi kubawa dia
kemari supaya kamu lebih tenang.” Pengakuan yang jujur. Aku kira dia kesini
atas panggilan hati, ternyata karena suruhan. Air mata kembali mengalir, aku
memejamkan mata, membiarkan bulir-bulir air mata yang sudah tak terbendung ini
bercucuran semaunya. “kumohon, jangan menangis lagi. Aku menyayangimu.” Dia menyandarkan
kepalaku di dadanya. Nyaman. Kudengar degup jantungnya dengan jelas. Aku menangis,
karena aku menyayangimu, aku tak ingin kehilanganmu. Mungkin wajahku bisa
menyembunyikan rasa sakit atas tindakanmu, tapi tidak dengan batinku. Tiap saat,
batin ini menjerit, menahan perih, acapkali melihatmu sedang bergandengan mesra
dengan kekasihmu.
*BERSAMBUNG*