Kamis, 15 November 2012

Kami Bersatu Dalam Sebuah Perjalanan Menuju Pulau Dewata IV


Terlalu berharap namun pada akhirnya tak dapat terwujud. Bercita-cita tinggi namun terhentak jatuh begitu saja. Betapa malang orang tersebut. Tunggu ! siapa yang aku bicarakan diam-diam dalam hati ini? Siapa yang aku tertawakan ? aku mengasihani diriku sendiri. Secara tidak langsung aku ingin mencaci atas apa yang telah aku lakukan untuknya. Apa yang bisa ku perbuat ? menghapusnya dari kehidupanku ? bertingkah seolah aku tak memendam rasa padanya lagi? andai itu bisa, andai itu mudah, sudah sejak dulu ku lakukan. Sebodoh itukah otakku ? setidak mampunya-kah otakku berpikir secara jernih ?

Tetes air mata kembali bergulir, perlahan namun semakin menjadi. Tidur nyenyak semalam terasa ingin ku ulang lagi. Tidur di bahu seseorang yang amat ku sayang dengan belaian tangannya yang nyaman dan menentramkan. Tidur dengan iringan lagu yang amat ku suka serta di nyanyikan oleh seorang yang ku cinta. Semua itu terasa mimpi saat terbangun dia tak lagi ada di sampingku. Sepucuk surat ku temui di kursi samping.
“maaf nggak bisa nunggu kamu sampai terbangun. Semoga mimpimu tadi malam indah, seindah senyum di wajahmu J jangan menangis, ku mohon. Aku tak tega harus melihatmu menitihkan air mata lagi.”
Entah perasaan apa yang kini berkecamuk dalam benakku. Mungkin amarah lebih banyak bersarang saat ini. Aku ingin menghampirinya yang sedang bersenda gurau dengan kekasihnya. Memakinya, memarahinya, mengumpatnya, meluapkan segala emosi yang ada. Tapi keinginan itu tak pernah dan tak akan pernah ku wujudkan. Aku tak ingin merusak hubungan mereka berdua. Lagipula, siapa aku ? hanya serpihan debu dari masa lalunya yang tidak berarti. Dia sudah bahagia dengan kekasihnya, jauh lebih bahagia daripada saat ia bersamaku.

***

Bahkan dia tak menungguiku saat bis sudah sampai di sekolah. Dia langsung pergi, tanpa pamit, tanpa sesungging-pun senyum untukku. Sakit. Aku ingin sekali-kali dia berada dalam posisiku. Melihat orang yang dia cinta tertawa suka bersama orang lain. Apakah dia akan tahan dengan kondisi seperti itu ? hitungan hari, hitungan minggu, bahkan hitungan bulan bukanlah waktu yang sepadan dengan penantianku selama ini. Dua tahun, tepatnya dua tahun 35 hari aku mulai menyimpan rasa padanya. Rasa cinta, dan kasih sayang. Rasa yang sampai sekarang belum mampu ku tepis.
“matamu bengkak ? tidakkah kau tidur selama di Bali ?” tanya ayah, mengamatiku dengan seksama. Mungkin dia ingin memastikan bagaimana kondisiku selama 5 hari tak berada dalam pengawasannya. Bagaimana mataku tidak bengkak ? nyaris setiap saat aku dipaksa menitihkan segelintir air mata olehnya juga untuknya. Hanya kujawab pertanyaan itu dengan sesimpul senyum, senyum yang ku paksakan.
Segera aku masuk ke kamar setelah ku letakkan segala macam oleh-oleh yang ada. Ku buka tas ranselku, mengambil sebuah benda yang menurutku sangat berarti. Sebuah gantungan kunci angsa, berwarna dominan putih. Bayangan sosoknya lantas samar-samar tergambar. Gantungan inilah satu-satunya saksi bisu yang bisa ku bawa sampai rumah atas apa yang telah ia lakukan kepadaku selama di Bali. Tawa, tangis, sendu, semua terluapkan dan hanya gantungan inilah yang menjadi saksi tindakan itu semua.
Aku mengamati ponselku yang layarnya beberapa kali berkelip, pertanda ada panggilan masuk. Ku rasa aku tahu siapa yang menelfonku. Tanpa ada niat sedikitpun, aku tetap menelantarkan ponsel tersebut diatas meja dengan nada senyap.
Andai kamu tahu siapa orang yang selama bertahun-tahun ini selalu menggelayuti pikiranku, akankah kamu tetap setega ini padaku. Aku ingin kamu tahu apa yang aku rasakan, tanpa harus aku beritahu. Aku terluka, melihat kelakuanmu selama ini, tidakkah kau sadar itu ? air mata kembali bergulir dari mataku. Berwisata ke Bali, yang awalnya ku anggap akan menyenangkan justru membuahkan nyeri hati yang tak kunjung berhenti. Luka lama yang selama ini selalu ku sembunyikan, sekarang makin tergores. Luka itu, kini makin menjalar sakitnya.
Guling-guling basah oleh air mataku, tak peduli seberapa sembab mataku sekarang. Yang jelas, menangis adalah satu-satunya tindakan yang dapat ku lakukan kali ini. Beruntung orangtuaku langsung pergi setelah menjemputku tadi, jadi tak ada yang perlu ku takutkan jikalau ingin menangis. Kakakku juga sedang kuliah, hingga aku tak harus putar otak untuk mencari tempat.
“kamu menangis lagi ?” suara itu... mataku terbelalak begitu mendengar kalimat tersebut terdengar, suara yang sangat familiar oleh telingaku. Aku tak berusaha mengusap air mata yang mengalir, mungkin aku hanya salah pendengaran. “ngapain kamu disini ?” dia menatapku, lekat. Mata kami, saling memancarkan cahaya. Ada binar keprihatinan dari sorot matanya yang dapat ku tangkap. Mata itu, aku merindukannya. Aku rindu tatapan kasih sayang yang dulu biasa dia berikan padaku. Kami terdiam, lama, hingga akhirnya sahabatku masuk ke dalam kamarku.
“uh, maaf mengganggu. Tadi aku yang nyuruh dia kemari. Aku rasa keadaanmu sedang tidak baik, jadi kubawa dia kemari supaya kamu lebih tenang.” Pengakuan yang jujur. Aku kira dia kesini atas panggilan hati, ternyata karena suruhan. Air mata kembali mengalir, aku memejamkan mata, membiarkan bulir-bulir air mata yang sudah tak terbendung ini bercucuran semaunya. “kumohon, jangan menangis lagi. Aku menyayangimu.” Dia menyandarkan kepalaku di dadanya. Nyaman. Kudengar degup jantungnya dengan jelas. Aku menangis, karena aku menyayangimu, aku tak ingin kehilanganmu. Mungkin wajahku bisa menyembunyikan rasa sakit atas tindakanmu, tapi tidak dengan batinku. Tiap saat, batin ini menjerit, menahan perih, acapkali melihatmu sedang bergandengan mesra dengan kekasihmu.

*BERSAMBUNG*